Pantai Watu Ulo, Sebuah Ikon Yang “Mulai” Terlupakan

Dahulu sebelum internet mudah terjamah seperti sekarang ini dan sebelum orang-orang ngeksis di media sosial, Pantai Watu Ulo pernah begitu terkenal. Bahkan orang akan bilang tak lengkap rasanya ke Jember kalau belum mampir ke pantai ini. Tak salah bila menyebut Pantai Watu Ulo “pernah” menjadi ikon pariwisata Kabupaten Jember.

Nama pantai ini bisa di bilang unik dan terkandung cerita rakyat yang cukup melegenda tentang penamaannya. Dalam bahasa Jawa, “Watu” berarti “batu”, sementara “Ulo” artinya “ular”. Dinamakan seperti itu karena diujung sisi pantai terdapat batu yang tersusun memanjang mirip dengan badan ular, bahkan kalau diperhatikan lebih dekat struktur batu tersebut “katanya” mirip sisik ular. Konon ular raksasa itu terpotong menjadi 3 bagian, kepalanya ada di Banyuwangi, badannya di Jember , lalu ekornya terlempar ke Pacitan. Ya namanya cerita rakyat, silahkan kalau mau percaya atau tidak (versi lengkap ceritanya bisa kalian cari sendiri ya).

Kembali ke topik kita kali ini tentang ketenaran pantai ini yang mulai memudar, Pantai Watu Ulo yang pernah menjadi primadona sekarang seperti “tersampingkan”. Setelah dibukanya jalur perbukitan yang mengarah ke Papuma, orang-orang lebih senang berwisata dan menghabiskan waktu di pantai pasir putih itu. Atau buat anak-anak muda, mereka lebih memilih berjalan-jalan di Pantai Payangan dengan Teluk Love-nya yang terkenal. Watu Ulo? rasanya tak begitu banyak perubahan yang terjadi, membuat hati wisatawan mulai berpaling dari dirinya.

Kami sampai di sana sekitar pukul 12 siang, bisa dibilang cuaca cukup terik saat itu. Cukup membayar 15 ribu untuk 2 orang, kami sudah bisa masuk untuk menikmati pantai ini.  Rindang dan luas, begitulah kesan pertama yang akan kalian temui saat di sini. Memang benar, Watu Ulo termasuk salah satu pantai yang memiliki garis pesisir yang panjang. Pusat keramaian pantai ini baru bisa kami lihat saat sampai di ujung, berdekatan dengan lokasi batu bersusun yang mirip ular tadi.

Bukti bahwa pantai ini pernah begitu terkenal adalah adanya bekas hotel di kawasan ini, hal itu menandakan bahwa arah pariwisata Jember saat itu memang berpusat di sini. Sayang sekali hotel tersebut sudah tidak ada, hanya meninggalkan patung kuda di sebelah gerbang masuknya. Jujur ada sedikit perasaan “eman” ketika melihat pemandangan itu. Kami hanya sebentar jalan-jalan di sini karena perut kami yang mulai keroncongan.

Sebenarnya banyak warung makan di Watu Ulo, tapi kami lebih memilih makan siang di Papuma. Mungkin suatu saat kalau pantai ini dikembangkan dan dikelola dengan sungguh-sungguh, Watu Ulo bisa menjadi primadona lagi karena ada sesuatu yang dimiliki Watu Ulo tetapi tidak dimiliki pantai lain, yaitu cerita rakyatnya yang melegenda. Ya meskipun rasanya akan tetap sulit mengalahkan pesona Papuma yang ada di sebelahnya.

Leave a Reply