Ngobrol Asyik di Bawah Sunset Ratu Boko

Yogyakarta. Hujan deras itu perlahan mereda saat kami selesai berkeliling di kawasan Candi Prambanan. Payung yang kami sewa tak sepenuhnya melindungi kami terbebas dari basah karena hujan yang turun cukup deras dan disertai angin. Mengingat masih ada satu tujuan wisata lagi yang ingin kami kunjungi hari ini, kami pun memutuskan untuk berganti pakaian supaya badan kami tidak kedinginan.

Sempat ada keraguan di benak kami saat sinar matahari sore tidak begitu menampakkan keelokan warna kuningnya. Hal ini itu wajar karena tempat tujuan kami berikutnya terkenal dengan spot sunsetnya yang sangat menarik, bahkan menjadi salah satu yang tercantik di Yogyakarta.

Kawasan Keraton Ratu Boko, begitulah tempat itu dinamai. Jaraknya yang hanya sekitar 4 km dari Candi Prambanan bisa menjadi tempat persinggahan berikutnya untuk kalian yang haus akan foto sunset. Apalagi latar belakang yang ditawarkan adalah bangunan sejarah, berupa reruntuhan keraton di jaman kerajaan dahulu, sesuatu yang bisa di bilang “langka” bila dibandingkan sekedar hunting foto sunset dengan background pantai atau gunung.

 Tak sulit untuk menemukan lokasinya meskipun berada di area perbukitan, hampir sejalan dengan arah ke tempat wisata tebing breksi. Protokol kesehatan di sini juga cukup ketat, mungkin karena masih satu pengelola dengan candi Prambanan. 2 jempol lah sekali lagi kami berikan untuk pengelola.

Sesampainya di sana kami disambut dengan kesejukan alam khas udara perbukitan, seperti menghipnotis kami untuk langsung menyukainya. Dari pintu masuk, kita harus berjalan sekitar 10 menit untuk mencapai lokasi keraton. Di sana sudah banyak wisatawan duduk-duduk di sekitar area keraton, mungkin mereka sedang menunggu momen sunset untuk berfoto. Ada juga yang rela baris, antri demi mendapatkan latar belakang yang bagus, sambil menunggu kesempatan orang-orang sedikit menepi supaya fotonya tidak terkesan ramai.

Daripada ikut antri berbaris di sana, kami memilih mengambil tempat di salah satu taman di depan Keraton Ratu Boko. Entah apa yang ada dipikiran kami, tapi saat itu kami tidak segila biasanya dalam memburu foto. Mungkin karena sunsetnya yang tidak terlalu kelihatan serta suasananya yang enak yang membuat kami hanya ingin sekedar duduk-duduk santai di sini. Dan di saat seperti ini, kelapa muda menjadi teman yang pas buat menemani kami membicarakan banyak hal, mulai dari A sampai Z. Ya betul sekali, terkadang hal-hal sepele bersama pasangan seperti inilah malah yang membuat liburan menjadi sangat berkesan.

Di saat kami sedang asyik mengobrol, kami didatangi seorang pria yang menawarkan jasa foto langsung jadi. Untuk 1 kali cetak harganya 20 ribu, kalau 3 kali cetak harganya 50 ribu. Kami pun langsung meng”iya”kan tawaran itu. Seperti cerita kami di awal perjalan ke Jogya kali ini, tujuan kita liburan adalah untuk refresing sekalian membantu UMKM yang ada di kawasan wisata karena di saat pandemi seperti ini mereka sangatlah terpukul secara ekonomi. Kalau dipikir-pikir lumayan juga lah dengan harga segitu sudah ada yang motoin kita berdua, dari pada harus pakai tripod atau minta tolong orang buat motoin (yang terkadang hasilnya tidak begitu bagus karena asal jepret hahaha).

Langit sudah mulai menggelap, kami pun harus segera mengakhiri petualangan kami di sini. Selama di Jogja kami menginap di hotel yang ada di sekitar jalan Malioboro. Dan ternyata benar, efek pandemi tak bisa membuat tempat ini sepi, tetap ramai seperti biasanya. Jogja memang selalu ngangenin.

Leave a Reply