Kawah Sikidang, Kawah Yang Katanya Bisa “Melompat”

Selesai menikmati indahnya sunrise di Sikunir, kami melanjutkan perjalanan menuju Kawah Sikidang. Lokasinya tidak begitu jauh dari tempat parkir Sikunir. Di sini tempat wisatanya memang dekat-dekat, jadi rasanya bisa puas banget karena sekali mendayung kita dapat banyak tempat wisata. Menurut sejarah, kawah ini terbentuk karena letusan gunung berapi. Dataran Dieng sebenarnya adalah gunung berapi yang kemudian meletus dan membentuk telaga, kawah, serta tempat-tempat bekas letusan yang kemudian ditempati oleh penduduk. Itulah kenapa kawah yang terbentuk di sekitar sini masih memiliki aktifitas vulkanik.

Kalau biasanya yang namanya “kawah” berada di atas dan susah untuk digapai atau dilihat, berbeda dengan kawah yang satu ini. Lokasinya yang berada di dataran yang relatif lebih rendah, kawah ini bisa didekati dengan sangat mudah. Kalian tak perlu mendaki, cukup membawa kendaraan, lalu memarkirnya, bayar tiket masuk, dan Kawah Sikidang sudah bisa kalian nikmati. Tak begitu sulit bukan?

Sikidang sendiri berasal dari nama “kijang”. Dinamakan seperti itu karena kawah ini bisa berpindah lokasi (bergeser). Ada yang bilang perpindahannya tiap 4 tahun sekali, ada yang bilang lebih. Tapi yang jelas fenomena berpindahnya lokasi kawah itu masih bisa kita saksikan. Cukup unik kan?

Seperti biasa, maps tetap menjadi andalan kami untuk mencapai lokasi Sikidang.  Kami di arahkan menuju jalan offroad untuk mencapai tempat parkirnya, cukup rindang tapi juga tidak terlalu luas. Jujur kami agak curiga saat sampai di sini, kenapa jalannya tidak beraspal, loket masuknya juga hanya pos kecil (seperti pos satpam), dan saat itu kok sedikit kendaraan yang parkir di sini. Karena kami belum pernah ke sini, kami cuman berpikir “mungkin memang seperti ini”.

Saat membayar tiket masuk, penjaga loket bilang kepada kami “nanti keluarnya juga lewat sini”. Kami tidak tahu maksud kata-kata itu, asumsi kami jalur pintu keluar dan pintu masuk jadi satu di sana. Oh iya, tiket masuk yang kalian bayarkan di sini sudah free untuk nanti masuk ke komplek Candi Arjuna, jadi jangan dibuang ya.

Asap tebal terlihat sangat dekat dari sini. Asap itu memang berasal dari kawah belerang yang mendidih. Tidak hanya 1 lokasi, tapi ada beberapa kawah belerang yang terlihat. Untuk menyusurinya, kita akan melewati jalanan yang dibuat seperti jembatan. Sebenarnya pemandangan yang disajikan tidak terlalu “wow”, tapi kalau kalian bisa mengambil sudut foto yang bagus, lokasi di sini bisa dibilang cukup instagramable. Bahkan mungkin saat diupload akan terlihat seperti di luar negeri.

Sajian utama di lokasi ini adalah kawah utama yang terlihat paling besar dibandingkan kawah-kawah di sekitarnya. Jalanan ini dibuat memutarinya sehingga kalian bisa merasakan sensasi bau belerang dari dekat. Katanya kalau pas weekend atau hari libur, ada penjual telur yang menggunakan panas belerang di sini untuk mematangkannya. Wajiblah kalian coba. Rasanya? Ehm, mungkin seperti telur rebus biasanya hahaha.

Puas berfoto-foto di sini, kami pun keluar mengikuti petunjuk arah. Kalian akan dibawa melewati “pasar” yang menjual aneka oleh-oleh khas Dieng seperti Carica, bubuk belirang untuk mandi bagi yang punya penyakit kulit, cemilan ringan dari berbagai buah, dan bunga-bunga yang banyak tumbuh di sini seperti Hidrangea. Kami membeli 2 buah pohon Hidrangea yang nanti bunganya berwarna putih dan ungu. Kalau kalian ingin memborong Carica, saran saya belilah di Dieng sini (jangan di Wonosobo) karena harganya jauh lebih murah.

Setelah melewati pasar yang berputar-putar, sampailah kami di pintu keluar. Betapa kagetnya kami setelah kami tahu tempat ini berbeda dari yang kita masuk tadi. Akhirnya kami mengerti maksud dari perkataan penjaga loket tadi, ternyata Kawah Sikidang ini memiliki 2 pintu masuk yang berbeda lokasi dan kami tadi masuk di pintu kedua (bukan pintu utama). Jelas sekali di sini jauh lebih ramai daripada tempat kami masuk tadi. Dan tentunya loket masuknya juga lebih besar, lebih mirip loket masuk ke tempat wisata daripada seperti pos satpam saja.

Berbelanja oleh-oleh

Untungnya kami boleh masuk tanpa harus membayar lagi. Sepertinya penjaga loket Sikidang sudah sering menemukan wisatawan yang mengalami kejadian yang sama dengan kami, mangkanya dia langsung membolehkan kami masuk dan menunjukkan jalan keluar menuju tempat parkir kami.

Itulah sedikit pengalaman kami di Sikidang. Setelah dari sini kami memutuskan untuk pulang dulu ke homestay. Sebenarnya kami berencana langsung ke Telaga Warna, tapi rasa kantuk mulai menyerang kaki. Ya mending tidur dulu lah, lanjut mandi baru jalan-jalan lagi biar difoto kelihatan lebih segar. Next, kami akan bercerita tentang romantisme Telaga Warna ^_^.

Leave a Reply