Jogja adalah Malioboro

Yogyakarta. Tak lengkap rasanya kita pergi ke Jogja tanpa membicarakan Malioboro, sebuah nama jalan di tengah kota yang telah membuat banyak orang jatuh cinta kepada Jogja. Sering kali sekolah-sekolah yang mengadakan study tour ke Jogja selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke sini. Mulai dari wisata sejarah, mau berbelanja di pasar tradisonal atau pasar modern, menginap di losmen murah atau hotel berbintang, hingga menyantap makanan tradisonal ala klepon atau makanan cepat saji tersedia semua di sini. Tak salah memang jalanan ini begitu melegenda.

Perjalanan kami di Yogyakarta memang tak begitu lama, hanya 3 hari. Tapi kami bersepakat untuk memilih menginap di sekitaran Malioboro daripada di area lain yang kami yakini bakal lebih sepi peminat. Jam menunjukkan angka setengah tujuh saat kami tiba di penginapan, kondisi jalanan menuju kota sangatlah padat mengingat ini adalah libur panjang pertama semenjak PSBB di terapkan. Setelah membersihkan diri dan mengisi perut yang sudah keroncongan, kami memutuskan berjalan-jalan sebentar di Malioboro.

Lautan manusia langsung terlihat saat kami keluar hotel. Jalanan penuh sesak, ini yang membuat kami sedikit banyak takut karena saat ini masih masa pandemi. Bisa dibilang kami pun “salah” karena berpergian di saat seperti ini, tapi ada banyak orang yang membutuhkan rejeki dari para wisatawan pada saat sulit seperti ini. Memang seperti pisau bermata dua, di satu sisi penerapan pembatasan membuat pandemi ini lebih terkontrol, namun di sisi lain faktor ekonomi akan sangat mengganggu buat mereka yang menggantungkan hidup dari keramaian wisatawan. Malam itu tak banyak hal yang kami lakukan, hanya menyewa becak lalu berkeliling sampai Alun-alun Selatan. Setelah itu kami habiskan malam di kamar hotel, merebahkan badan setelah seharian berkeliling di Prambanan dan Ratu Boko.

Hari kedua di Malioboro pun tak banyak perubahan, kami tetap menghabiskan waktu di hotel, rasanya badan ini masih terasa capek. Kalau diingat-ingat sudah lama kami tidak berjalan jauh seperti kemarin. Meskipun kami rutin olahraga, rasa capeknya dengan berkeliling di tempat wisata tetaplah beda. Kami baru keluar hotel pukul 12 siang, itupun karena kami harus berpindah hotel. Sulit sekali memesan kamar untuk hotel yang bagus selama 2 hari di saat libur panjang seperti ini. Kalau dipikir-pikir kesalahan kami juga sih yang terlalu menggampangkan saat memesan hotel, kami kira saat pandemi seperti ini akan mudah mendapatkan slot kamar, akhirnya kami pesannya berdekatan dengan hari keberangkatan. Ternyata kami salah, Joga tetap ramai seperti biasanya hahaha.

Hari ketiga di Malioboro cuaca masih bersahabat dengan kami. Minggu pagi itu bertepatan dengan event lari Jogja 10k, sebuah event untuk memperingati hari ulang tahun Kota Jogja. Hari terakhir itu kami gunakan untuk berbelanja, hal yang kami tahan-tahan dari kemarin. Memang benar, Malioboro identik dengan berbelanja, menghabiskan uang untuk membeli berbagai jenis pakaian, tas, sandal atau pernak pernik lainnya. Tak lupa juga kami mampir ke pabrik pembuatan bakpia. Yang jadi sasaran kami adalah bakpia kurnia sari dan bakpia 25, mungkin karena kedua merk bakpia itu menurut kami yang paling lezat. Kue tugu Jogja pun tak luput dari pengamatan kami. Benar-benar hari yang menyenangkan untuk berbelanja ^_^.

Sedikit yang kami sesali dalam perjalanan ini adalah kami tidak “bisa” masuk ke Taman Sari, padahal itu merupakan salah satu tujuan utama kami. Membayangkan berfoto di tangga yang ikonik itu sudah kami bayangkan jauh-jauh hari sebelum berangkat. Penyebab kami tak bisa masuk? Antriannya yang mengular. Dua kali kami ke sana, bahkan yang kedua kami datang sebelum jam buka Taman Sari, itu pun antriannya sudah bikin malas. Dan daripada waktu kami habis buat mengantri, mending kami jalan-jalan di sekitaran Malioboro. Sedih? Ehm, asal bersamamu semua terasa indah kok hahaha.

Terima kasih Jogja untuk semua kenangan yang engkau berikan. Dua kali kami pergi bersama ke Jogja dan dua kali juga kami merasakan perjalanan yang sangat menyenangkan. Dan memang benar, Malioboro adalah implementasi dari Jogja, tak lengkap rasanya pergi ke Jogja tanpa mampir ke sini. Segeralah pulih Indonesiaku, kami tentu sangat rindu traveling dengan rasa aman tanpa ada rasa was-was karena virus. Tetaplah sehat kawan, dan jangan lupa tetaplah berbagi buat sesama yang membutuhkan 👍

Leave a Reply