Candi Arjuna, Komplek Candi Tertinggi di Pulau Jawa

Sampailah kami di tempat terakhir untuk hari ini. Sebagai penutup traveling to Dieng hari kedua, kami mengunjungi peninggalan candi umat hindu yang mana merupakan candi tertinggi di Indonesia. Bukan tertinggi karena bangunannya, tetapi tertinggi untuk lokasinya dibandingkan candi-candi yang lain. Di sini juga lah lokasi Dieng Festival Culture diadakan tiap tahunnya. Sayang sekali karena ada pandemi, festival yang terkenal dengan tradisi pemotongan rambut gimbal anak-anak Dieng serta konser Jazz di atas awan itu harus diadakan secara virtual pada tahun lalu.

Bila kalian sudah memiliki tiket masuk dari Kawah Sikedang, kalian tidak perlu membayar lagi untuk masuk ke sini. Tapi kalau tiket kalian hilang, siap-siap harus merogoh kocek 20 ribu lagi untuk masuk ke komplek candi ini. Jam operasionalnya antara jam 08.00 sampai dengan 16.00. Kami sengaja datang di sore hari karena kadang muncul kabut tipis di jam-jam segitu yang menutupi area candi sehingga pas banget untuk difoto.

Masih ada waktu sekitar setengah jam sebelum kawasan ini tutup saat kami tiba di sini. Hujan sudah benar-benar reda. Sama seperti kawasan lainnya, di sini protokol kesehatan juga di terapkan dengan sangat baik, ada banyak tempat untuk mencuci tangan, pengecekan suhu saat masuk, dll. Udara di sini benar-benar sejuk, sepertinya sudah lama kami tidak merasakan udara “sebersih” ini.

Kami masuk melalui pintu 1, tak banyak kendaraan yang terparkir saat itu, mungkin karena sudah mau tutup juga sehingga wisatawan sudah sepi. Untuk mencapai komplek candi, kita harus berjalan sekitar 5 menit. Kemudian kita akan di sambut 5 buah bangunan candi saat memasuki kawasan ini yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srkiandi, Candi Putandewa, dan Candi Sembadra.

Menurut penuturan orang di sini, dulu kawasan ini terendam air (bahkan mirip danau) saat ditemukan pertama kali. Akhirnya dilakukanlah penyelamatan oleh pemerintah Belanda. Saat kita berkunjung ke sini, kita tidak akan menemukan arca di dalam candi karena telah diamankan di Museum Kaliasa untuk menghindari pencurian.

Saat kami asyik berfoto-foto, tiba-tiba ada pengumuman dari petugas kalau komplek ini akan segera di tutup. Kami pun bergegas keluar dengan mengikuti petunjuk arah dan saat itu wisatawan yang lain juga keluar lewat jalan itu. Setelah sampai di tempat parkir, lagi-lagi kami di buat “tercengang”. Di sana banyak terparkir elf dan mobil yang mana tidak kami temukan saat masuk tadi. Dan sekali lagi kami melakukan kesalahan sama seperti saat di Sikidang, pintu masuk di sini ada 2.

Kami tadi masuk lewat pintu 1 dan sekarang keluar lewat pintu 2. Di sebelah pintu 2 ini terdapat sebuah candi yang cukup besar bernama Candi Gatot Kaca. Dengan buru-buru kami segera masuk kembali karena kalau tidak lewat dalam komplek candi, maka akan berputar jauh untuk mencapai lokasi parkir kami.

Untungnya petugas di sini baik, mereka mengantar kami dan bersedia membukakan gerbang sehingga kami tidak harus memutar jauh. Hikmahnya kami bisa menikmati Candi Arjuna berdua saja tanpa ada “gangguan” dari wisatawan lain. Memang selalu ada hikmah dibalik setiap kesalahan.

Pesan kami kepada kalian yang berkunjung ke Kawah Sikidang dan Candi Arjuna, perhatikan baik-baik pintu masuk kalian karena jalan keluar kalian harus sama dengan pintu masuk yang kalian lewati. Tidak percaya? Silahkan mencobaa hahaha.

Leave a Reply