Bukit Sikunir, Melihat Golden Sunrise di Dieng

Jam masih menunjukkan pukul 3 pagi saat alarm kami mulai berbunyi. Cukup berat sebenarnya untuk bangun saat itu mengingat udara dingin Dieng benar-benar membuat kami enggan melepaskan diri dari kasur dan selimut yang hangat. Tentu tujuan kami ke sini bukan hanya untuk berpindah tempat tidur, tapi rasanya juga berat untuk bangun. Setelah kesadaran kami mulai penuh, kami mulai menyiapkan berbagai perlengkapan untuk pendakian pagi ini. Mulai dari senter, jaket, penutup kepala, sarung tangan, syal, tripod hingga air hangat di dalam termos. Untungnya Bidora Homestay selalu menyediakan air panas untuk para tamunya sehingga kami tak perlu bingung jika membutuhkannya.

Akan percuma rasanya bila menginap di Dieng tapi melewatkan sunrise di sini. Bahkan mungkin sunrise Dieng adalah sajian utama dalam perjalanan kami kali ini. Menu utama yang akan sangat disayangkan bila terlewatkan Setelah semua persiapan beres, kami pergi ke Sikunir dengan menggunakan motor yang telah kami sewa kemarin. Tidak mengenal medan, jalanan yang berliku-liku dan menanjak menjadi alasan kami tidak memakai mobil, meskipun resikonya udara dingin akan lebih terasa saat berkendara.

Sebenarnya ada 2 lokasi favorit untuk menikmati sunrise Dieng, yaitu Bukit Sikunir dan Batu Angkruk yang ada di Gardu Tieng Perkebunan Tambi. Perbedaannya kalian tidak perlu mendaki jika memilih Batu Angkruk. Tentu akan berbeda rasanya jika kita melihat sunrise setelah melakukan pendakian, meskipun pendakian di Sikunir tidak memerlukan waktu yang lama juga. Jarak Sikunir dari tempat kami menginap tidak begitu jauh, hanya sekitar 8 km. Kabut tebal di pagi hari membuat kacamata yang aku pakai sering kali berembun sehingga kami harus bertukar posisi berkendara. Sesuatu yang tidak aku perkirakan sebelumnya.

Gapura desa tertinggi di Pulau Jawa

Oh iya, letak Sikunir sendiri berada di Desa Sembung yang mana merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa, lebih tinggi dari Desa Ranupani yang ada di Semeru. Ketinggiannya mencapai 2260 m di atas permukaan laut, bisa dibayangkan betapa dinginnya pagi itu. Tiket masuk per orangnya 15 ribu, tak begitu mahal untuk keindahan yang akan kita dapatkan. Tempat parkirnya sendiri cukup luas, mungkin hampir seukuran lapangan sepak bola.

Setelah memarkir motor, kami tidak segera naik ke puncak bukit karena kami menunggu adzan shubuh berkumandang. Sebenarnya di atas puncak sana ada mushola juga, tapi kami memilih sholat di area parkir ini supaya lebih tenang ketika mendaki karena kewajiban telah tertunaikan. Di manapun kalian berada dan serepot apapun aktivitas kalian, pokoknya jangan sampai melupakan kewajiban kepada Tuhan. Itulah poin yang selalu kami terapkan saat traveling.

Pendakian dimulai……….

Setelah melewati beberapa warung  yang telah buka di pagi seperti ini, tibalah  kami di jalan bertangga perbukitan. Oksigen yang lebih tipis karena berada di ketinggian menjadi tantangan tersendiri. Beberapa kali kami harus berhenti untuk beristirahat sebentar. Sudah ada pagar pembatas yang cukup kokoh di sepanjang anak tangga sehingga bisa meminimalisir hal-hal yang tidak diduga. Sebenarnya tanjakan di sini tidak terlalu curam, mungkin hampir sama dengan penanjakan di Bromo. Tak jarang kami bertemu dengan rombongan ibu-ibu paruh baya, itu tandanya tempat ini bisa dicapai untuk segala usia.

Awan terlihat menyelimuti kawasan Dieng

Tak butuh waktu lama untuk mencapai pos 3 atau pos terakhir di Sikunir, hanya sekitar 30 menit. Di atas sudah banyak wisatawan yang menunggu sunrise, untungnya kami ke sini saat weekdays jadi tidak sepadat saat hari libur. Dan yang ditunggu pun datang, secercah sinar berwarna orange mulai muncul. Awan putih tebal ditembus untuk menyinari sekitarnya. Mulai terlihat berbagai gunung yang ada di sekitar Sikunir seperti Gunung Prau, Gunung Sindoro, Gunung Slamet, Gunung Sumbing, dll. Ya benar sekali, dari atas sini kita memang bisa melihat berbagai gunung yang menjadi keelokan sendiri dari Sikunir.

Semakin muncul semakin indah, mungkin saat itu bukanlah sunrise terbaik yang pernah ada di Dieng, tapi itu sudah cukup membuat kami takjub dengan pemandangan yang tersaji. Golden Sunrise, sesuai sebutannya, komponen warna yang pas dipadu dengan awan putih yang masih menyelimutinya. Perlahan hawa dingin mulai memudar, tersapu hangatnya sinar matahari. Rasanya ingin sekali momen seperti ini dapat berhenti sejenak, membiarkan waktu lebih lama buat kami menikmati keindahan apa yang telah Engkau ciptakan.

Setelah matahari mulai meninggi dengan diiringi hilangnya warna kuning keemasan itu, kami memutuskan untuk turun, apalagi perut kami mulai lapar. Dari kejauhan terdengar suara angklung mengiringi orang-orang bernyanyi, suaranya cukup enak didengar. Ternyata setelah kami mendekat, itu adalah suara angklung dari Kelompok Seniman Jaka Sembung. Mereka adalah seniman yang menghibur para pendaki saat turun dari Sikunir. Kami pun memutuskan makan di warung yang berada di dekat mereka sambil menikmati alunan musik yang mereka mainkan. Menu yang kami pilih? Indomie, pop mie, tempe kemul, dan jahe hangat. Perpaduan yang pas di pagi itu, momen seperti ini yang selalu membuat traveling bersamamu tambah menyenangkan.

Pertunjukan Calung Jaka Sembung

Menu utama Dieng telah kami santap dengan sangat lahap hari ini, golden sunrise yang membuat orang-orang selalu ingin kembali ke sini. Namun perjalanan kami masih panjang, masih banyak tempat wisata menarik lainnya di Dieng yang menanti untuk dikunjungi. Terima kasih Bukit Sikunir, secara keseluruhan tempat ini sangat kami rekomendasikan buat kalian.

Leave a Reply