Batu Pandang Ratapan Angin, Melihat Keindahan Dieng Dari Sudut Lain

Tak terasa hari ini adalah hari terakhir kami di Dieng. Udara dingin yang menemani kami setiap hari seakan-akan sudah menyatu dengan tubuh kami. Tak seperti awal kedatangan di mana kami begitu kedinginan, di hari ketiga ini rasanya badan kami sudah sangat beradaptasi dengan suhu dingin di sini. Hari itu kami tidak mengejar sunrise, dan memang tidak ada rencana hunting sunrise lagi. Masih ada 1 tempat wisata yang ingin kami kunjungi sebagai penutup perjalanan kami di sini yaitu Batu Pandang Ratapan Angin.

Dinamakan Batu Pandang Ratapan Angin tentu ada cerita di baliknya. Awalnya tempat ini bernama Batu Pandang Dieng atau Batu Pandang Telaga Warna karena dari atas sini kita bisa melihat Telaga Warna dan Telaga Penglion yang begitu indah. Lokasinya yang di kelilingi pepohonan dan semak belukar ini menghasilkan bunyi-bunyian tatkala angin berhembus. Bunyi unik itu terdengar seperti suara siulan atau ratapan. Maka dari itu lah kemudian tempat ini dinamai Batu Pandang Ratapan Angin.

Kami berangkat sekitar pukul setengah tujuh pagi. Seperti biasa maps selalu menjadi andalan kami. Lokasinya berada di atas Dieng Theater Pletau, bahkan mereka memiliki satu lokasi parkir. Kami harus berangkat pagi untuk menghindari keramaian di tempat ini mengingat Batu Pandang Ratapan Angin merupakan tempat wisata bertipe “spot foto cantik” yang tentu akan sangat lama antrinya untuk berfoto di tempat-tempat strategis bila sedang ramai. Jam-jam segitu kebanyakan wisatawan  masih berada di Bukit Sikunir maupun Kawah Sikidang. Dan benar saja, kami merupakan wisatawan kedua yang berkunjung di pagi itu.

Setelah membayar tiket masuk sebesar 10 ribu per orang, kami berjalan menyusuri anak tangga yang sudah terbangun rapi untuk memudahkan para wisatawan menuju puncak bukit. Mungkin sekitar 10 menit kami berjalan tibalah kami di gardu pandang yang pertama. Dari sini kita langsung bisa melihat 2 buah telaga yang bisa menjadi latar belakang cantik saat berfoto. Memang tidak salah kalau ada yang bilang tempat terbaik melihat Telaga Warna adalah di atas sini. Oh iya, kalian harus berhati-hati ya saat mengambil foto di atas bebatuan di sini soalnya terkadang batunya licin. Selalu utamakan keselamatan dalam setiap momen.

Puas mengambil foto dari spot ini, kami melanjutkan perjalanan ke atas sedikit. Di sana ada tulisan “Batu Pandang Ratapan Angin” yang terukir besar di sebuah tebing. Tentu tempat ini menjadi incaran foto juga. Di balik tebing itu terdapat anak tangga terbuat dari kayu yang mengarahkan kita kepada jembatan yang menghubungkan antar 2 buah gardu pandang. Kalian juga tidak boleh meninggalkan spot cantik ini untuk berfoto karena panorama yang disajikan juga tak kalah cantiknya. Beruntung saat itu kondisi tidak sedang berkabut atau mendung sehingga komposisi warna yang disajikan begitu pas.

Tanpa disadari sudah hampir 1,5 jam kami menikmati tempat ini. Berbagai jenis Hidrangea juga tumbuh subur di sini. Berbagai warna yang dihasilkan dari bunga itu juga menambah cantik tempat ini. Saat kami hendak turun, rombongan wisatawan dengan jumlah cukup banyak tiba. Beruntung sekali tadi kami ke sini saat kondisi masih sepi. Tak lupa kaki mengambil beberapa foto di sekitar Dieng Pletau Theater sebagai kenang-kenangan terakhir.

Berakhir sudah perjalanan 3 hari kami di Dieng. Berangkat dengan ketegangan, berakhir dengan keseruan. Tak lupa kami membawa oleh-oleh berupa Carica dan pohon Hidrangea yang kami beli di Kawah Sikidang. Tiga hari di sini telah membuat kami jatuh cinta dengan Dieng. Tempat wisatanya, keramahan warganya, kesejukannya, dan kenangannya membuat kami suatu saat ingin berkunjung ke sini lagi. Dan semoga saat itu terjadi, pandemi ini sudah berakhir sehingga kami bisa lebih bebas menikmati keindahan Dieng tanpa ada rasa khawatir lagi. Terima kasih Dieng…….we love u.

Leave a Reply