Aku, Kamu, dan Dieng

Sebuah perjalanan yang akhirnya bisa terwujud, mengunjungi salah satu tempat tertinggi di Pulau Jawa. Tak terhitung berapa kali kami membahas untuk pergi ke sana, bahkan jauh sebelum pandemi ini terjadi. Mau ikut open trip, privat trip, atau berangkat sendiri memakai kendaraan pribadi. Semua kemungkinan sudah pernah kami bahas, namun belum pernah terwujud.

Hingga suatu hari tibalah saat di mana tekad kami semakin bulat, sekaranglah saat yang tepat untuk ke sana. Berbagai persiapan pun kami lakukan, mulai dari menyiapkan pakaian hangat, sepatu untuk mendaki, snack saat perjalanan, homestay untuk menginap, hingga kesiapan mobil untuk melewati jalanan berliku Dieng. Tak lupa itinerary dan perkiraan biaya juga kami buat supaya tidak ada tempat wisata yang terlewat dan tidak ada pengeluaran berlebihan di luar budget (nanti kami share juga kok buat kalian yang ingin pergi ke Dieng tapi bingung soal ini).

Selasa 1 Juni 2021, hari yang ditunggu itu tiba. Kami berencana menginap 2 malam di sana,  membuat kami harus mengambil cuti 3 hari dari rabu sampai jumat. Sekitar 360 km, begitulah jarak yang ditunjukkan oleh maps, perjalanan yang cukup panjang. Kami sempat mampir di Dusun Semilir yang ada di Bawen, Semarang untuk beristirahat sejenak sambil jalan-jalan menikmati tempat wisata tersebut. Sebenarnya tujuan awal kami berhenti di Cimory On The Valley, tapi saat keluar tol Bawen kami melihat banner besar bertuliskan “Dusun Semilir” yang berjarak tak jauh dari sana, akhirnya kami putuskan mampir dulu baru ke Cimory. Selesai dari Dusun Semilir kami pergi ke Cimory untuk makan siang di sana, ternyata sejak tanggal 25 Mei 2021 tempat ini tutup, hanya membuka gerai tokonya saja. Kekecewaan pun sempat menghampiri kami, kekecewaan yang nantinya malah menjadi rasa syukur.

Perjalanan kami lanjutkan menuju Dieng. Berhubung kami belum pernah ke sana, kami hanya mengikuti apa yang diarahkan maps. Dari Bawen kami menuju Temanggung, melewati tengah kotanya yang ternyata begitu macet (kami baru tahu kalau Temanggung kotanya cukup besar dan lengkap). Lalu petualangan kami yang sesungguhnya baru saja di mulai. Ternyata maps mengarahkan kami melewati basecamp pendakian Sinduro jalur Sigedang menuju Perkebunan Teh Tambi lalu kemudian dipertemukan dengan Jalan Raya Dieng-Wonosobo. Ya benar sekali, kami diarahkan lewat jalan alternatif di Parakan.

Jalur alternatif yang kami lalui

Jalanan sempit dengan tanjakan yang cukup tajam hingga berliku-liku, belum lagi pandangan mata yang terbatas karena kabut yang cukup pekat, padahal saat itu jam masih menunjukkan 3 sore. Hujan perlahan juga mulai turun. Saat bersimpangan dengan mobil atau truk, rasa deg-deg an selalu menghampiri kami. Tak jarang kami bersimpangan saat kondisi menanjak dan berbelok. Terlebih saat kami melihat maps, di sana masih tertulis 21 km lagi untuk sampai di homestay. Apakah seperti ini jalanan menuju Dieng? Ataukah kami yang salah ambil jalur? Padahal di berbagai ulasan, jalanan menuju Dieng tidaklah semenakutkan ini.

Pemandangan yang disajikan sebenarnya cukup menarik, bisa di bilang kami berkendara di atas awan. Kami bisa melihat awan ada di bawah kami. Tapi rasanya kami tidak ingin nelewati jalanan itu lagi. Nyawa kami terasa kembali saat kami melihat ada pertigaan besar dengan jalan aspal yang lebih lebar. Ya betul sekali, itu adalah jalan raya Dieng-Wonosobo, jalan utama menuju Dieng. Setelah sampai sini, kami benar-benar merasa bersyukur Cimory tadi tutup. Kekecewaan itu berubah menjadi rasa syukur teramat dalam. Seandainya Cimory tetap buka, mungkin kami akan menghabiskan waktu di sana selama beberapa jam, lalu akan sampai di Tambi saat kondisi sudah semakin petang. Rencana Tuhan memanglah yang terbaik, selalu lebih tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya.

nyewa motor buat berkeliling

Jam menunjukkan sekitar pukul 4 sore saat kami sampai di Bidora Homestay. Tempatnya nyaman dan pemiliknya sangat ramah. Kami langsung meminta untuk dicarikan persewaan motor selama 2 hari di sini. Pilihan yang tepat mengingat jalanan di Dieng juga tidak terlalu besar, lebih nyaman kalau pakai motor untuk berkeliling. Setelah makan bakso untuk mengisi perut, hari itu kami habiskan waktu di kamar. Menenangkan diri setelah melewati jalanan ekstrim serta untuk mempersiapkan diri karena besok kami harus bangun sebelum shubuh untuk menuju Bukit Sikunir.

Hari Kedua, Perjalanan Wisata di Mulai

Hari kedua ini kami ingin habiskan untuk berkeliling di berbagai spot wisata Dieng. Mulai dari Bukit Sikunir yang berada di desa tertinggi di Pulau Jawa, hingga berkeliling di komplek Candi Arjuna yang mana biasa dipakai untuk Dieng Culture Festival.

Bukit Sikunir

Alarm berbunyi pukul 03.00, jangan tanya lagi apakah saat itu dingin atau tidak. Kami bergegas menyiapkan diri, memakai baju hangat, lalu berangkat menuju Sikunir. Kondisi jalanan cukup gelap dan berkabut, mengakibatkan kacamata yang aku pakai sering kena embun. Akhirnya kami berganti posisi, aku yang dibonceng istriku. Daripada kami harus sering berhenti untuk mengelap kacamataku.

Sesudah mendaki selama 30 menitan, sampailah kami di puncak bukit ini. Dari sini kita bisa melihat berbagai gunung yang mengelilinginya. Ternyata memang indah sunrise di sini, pantas saja orang-orang senang mengunjunginya. Jam 6 pagi kami turun dan sarapan di warung sekitar Sikunir ditemani seniman Calung Jaka Sembung yang selalu setia menghibur para pendaki yang turun. Benar-benar sarapan yang menyenangkan. Pop mie, tempe kemul, jahe hangat ditambah suguhan lagu dari para seniman itu.

Kawah Sikidang

Kami melanjutkan perjalanan menuju Kawah Sikidang, lokasinya tak jauh dari Sikunir. Di kawah ini aroma belerang sangat kentara. Ada kejadian lucu di sini karena ternyata Sikidang mempunyai 2 pintu masuk yang tidak saling terhubung. Kami memasuki pintu masuk kedua (bukan pintu masuk utama), lagi-lagi itu semua karena maps. Saat itu penjaga loket bilang, “nanti keluarnya juga lewat sini mas”, kami tidak tahu maksud perkataan itu karena kami mengira jalan keluarnya memang itu saja.

Setelah berkeliling dan berfoto-foto, kami keluar mengikuti petunjuk arah yang tersedia, melewati pasar yang berliku juga. Saat sampai di parkiran, kami kaget kenapa banyak elf dan mobil terparkir di sini, padahal tadi parkirannya tidak seperti ini. Kami pun akhirnya tersadar bahwa ini lokasi parkir yang berbeda. Untungnya petugas loket di sini baik, mengijinkan kami masuk tanpa harus membayar tiket lagi. Sepertinya sudah sering ada wisatawan yang “kesasar” seperti kami, mangkanya petugasnya langsung paham saat kami berkata “tadi kami parkirnya tidak di sini”

Telaga Warna

Kami memutuskan untuk kembali ke homestay dulu untuk tidur siang, sekaligus mengganti jam tidur tadi pagi. Setelah sholat dhuhur dan mengisi perut dengan nasi padang, kami melanjutkan perjalanan di Telaga Warna dan Telaga Panglion. Pintu masuk kedua telaga itu jadi satu, bahkan kalian akan dapat bonus mengunjungi dereten gua yang ada di lokasi ini.

Belum sempat kami berkeliling sampai ujung, hujan mulai turun dan semakin deras. Untungnya di sini ada sebuah tempat makan bernama “Kedai di Atas Awan” sebagai tempat berteduh sambil menikmati pemandangan Telaga Warna. Yang kami pesan? Pisang coklat keju, nugget, tempe kemul dan secangkir secang hangat untuk menemani kami mengobrol. Terkadang romantis itu tidak perlu mahal dan berlebihan, cukup seperti ini saja membuat kami merasa bahagia.

Komplek Candi Arjuna

Masih ada 1 tempat yang ingin kami kunjungi sebagai penutup hari kedua kami di kebetulan lokasinya paling dekat dengan Bidora Homestay dibanding tempat wisata lainnya yaitu Candi Arjuna. Berada di area candi ditemani kabut yang semakin pekat di sore hari menyajikan pemandangan tersendiri yang belum pernah kami temui. Sayang sekali kami cuman kebagian waktu sekitar setengah jam karena tempat ini sudah mau tutup.

Dan sekali lagi kami melakukan kekonyolan yang sama seperti saat di Sikidang. Di sini pintu masuknya ada 2, lewat Candi Gatotkaca (tentunya ini yang lebih ramai) dan lewat pintu yang langsung mengarah ke Candi Arjuna (loket 1). Saat keluar seperti biasa kami hanya mengikuti petunjuk arah “keluar”, lalu sampailah kami ke parkiran yang ada Candi Gatotkaca alias loket 2. Jelas sekali ini bukan parkiran tempat kami menaruh motor, akhirnya kami bertanya kepada petugasnya.

Benar sekali, di sini kalian harus keluar lewat pintu yang sama sesuai loket masuk kalian karena jarak kedua loket itu cukup jauh. Untung sekali petugasnya baik, kami dibukakan gerbang ke area candi lalu keluar melalui tempat kami masuk tadi. Hikmahnya? Kami bisa berada di Candi Arjuna berdua saja tanpa ada orang lain, seperti menyewa 1 komplek penuh untuk dinikmati berdua.

Selesai dari Candi Arjuna kami pulang ke homestay sekaligus menjadi tempat wisata terakhir yang kami kunjungi hari ini. Salah satu hal yang membuat kami jarang menggunakan jasa agen travel saat berwisata supaya kami bisa menyesuaikan sendiri jadwal kunjungan, sehingga kami tidak terlalu capek dengan jadwal yang padat dan bisa menghadirkan quality time yang lebih bermakna seperti saat di Telaga Warna.

Ada hal menarik yang kami amati di Dieng yaitu agama islam di sini sepertinya sangat melekat bagi masyarakatnya. Itu bisa dilihat dari banyaknya masjid yang ada serta perempuan-perempuan di sini baik yang muda maupun yang lanjut usia kebanyakan memakai jilbab saat keluar rumah. Itulah yang membuat saya dan istri merasa nyaman dan tenang di sini karena berada di lingkungan Islam yang cukup kental. Selain itu masyarakat di sini juga ramah-ramah, benar-benar poin plus supaya wisatawan tidak takut menginap di sini.

Hari Ketiga, Perjalanan Terakhir di Dieng

Aaahhhh tak terasa ini sudah hari terakhir kami di Dieng, padahal kami sudah mulai menyesuaikan dengan hawa dingin di sini. Rasanya ingin berlama-lama di tempat tidur tapi masih ada 1 tempat wisata yang ingin kami kunjungi yaitu Batu Pandang Ratapan Angin. Sebenarnya masih ada Batu Angkruk yang tak kalah ciamik untuk di kunjungi, tapi setelah di timbang-timbang kami tidak jadi ke sana.

Batu Pandang Ratapan Angin

Jam 6 pagi kami berangkat menuju ke sana. Lokasinya sendiri berada di atas Dieng Plateau Theatre. Batu ratapan angin merupakan dua buah batu besar yang berdampingan yang konon katanya saat angin berhembus kencang akan menimbulkan suara mendesis seperti orang yang meratapi kesedihan.

Sebelum masuk, kami pastikan dulu bahwa pintu masuknya hanya ada 1 supaya tidak terjadi kejadian seperti kemarin lagi. Di sinilah spot terbaik buat kalian yang ingin berfoto dengan latarbelakang Telaga Warna dan Telaga Panglion. Untuk mencapai spot tersebut, kalian cukup mendaki sekitar 10 menit, jalurnya tidak begitu sulit karena tangganya sudah tersusun rapi. Mungkin ini adalah tempat yang paling instagramable di Dieng karena begitu sering muncul di Instagram foto dengan backgroud tersebut.

Selesai dari Batu Pandang Ratapan Angin kami bergegas kembali ke homestay untuk segera packing karena tujuan kami berikutnya adalah Candi Borobudur yang ada di Magelang. Di sepanjang jalan kami sempat mengabadikan beberapa momen sebagai kenang-kenangan selama di sini. Tak lupa kita membeli oleh-oleh khas Dieng yaitu carica, sebuah minuman yang di dalamnya terdapat potongan buah carica.  

Mie ongklok legendarisnya Wonosobo

Berkaca dari pengalaman saat berangkat kemarin, kami memilih jalur Dieng-Wonosobo. Tidak ada lagi jalur alternatif, yang ada hanya jalur utama dengan akses jalan yang cukup lebar. Dan ternyata memang benar, tidak begitu mengerikan kok jalanan menuju Dieng hahaha. Sesampainya di Wonosobo kami mampir sebentar di warung makan Mie Ongklak Longkrang, yang katanya merupakan mie ongklak paling legendaris di sini. Rasanya? Silahkan diicipi sendiri ya soalnya tiap orang selera lidahnya berbeda-beda.

Terima kasih Dieng untuk 3 hari yang indah, terima kasih juga buat Bidora Homestay yang sangat memuaskan dalam pelayanannya. Ternyata kesimpulan kami sama, kami sangat suka dengan Dieng. Matahari terbitnya, keramahan penduduknya, udara segarnya, harga makanannya yang tak terlalu mahal, hingga tempat wisatanya. Hal terindah di dunia adalah bersamamu di tempat yang indah, seperti di Dieng.

Leave a Reply