Air Terjun Tumpak Sewu, Niagaranya Indonesia

Again and again, decak kagum akan pemandangan alam yang luar biasa cantik kembali dapat kami lihat di sekitaran kawasan TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru). Masih sangat jelas diingatan kami setahun yang lalu saat kami begitu tersihir oleh bentang alam Air Terjun Madakaripura yang mana memberikan suguhan air terjun di dinding-dinding tebing sepanjang jalan menuju air terjun utama. Kali ini di salah satu sisi yang lain, terdapat air terjun yang tak kalah rupawannya, bahkan orang-orang menjulukinya sebagai Niagaranya Indonesia. Air terjun Tumpak Sewu, begitulah nama yang orang berikan.

Bagian panorama jika melalui pintu masuk kedua

Letaknya persis di perbatasan antara Kab. Malang dan Kab. Lumajang. Tak begitu sulit untuk menemukan pintu masuk menuju lokasi air terjun, mungkin kalian hanya akan sedikit kebingungan mau masuk lewat lokasi yang mana. Jika kita berangkat dari Malang, sebelum memasuki Kab Lumajang, nanti akan ada plang petunjuk arah ke kanan menuju Coban Sewu, inilah pintu masuk yang pertama. Lalu jika kita memilih terus, setelah ada gapura “Selamat Datang Di Kab Lumajang”, pelankan kendaraan anda karena akan ada tulisan Tumpak Sewu belok ke kanan. Nah, pintu masuk kedua ini sudah ikut wilayah Kab. Lumajang. Loh, itu Coban Sewu sama Tumpak Sewu sama to? Tenang saja, itu sama kok. Kalau dinas pariwisata Malang menamainya Coban Sewu, sementara Lumajang menamainya Tumpak Sewu, bedanya hanya di sudut viewnya saja kok.

Lalu pintu masuk yang ketiga adalah melewati Goa Tetes. Saran saya, kalian jangan masuk lewat sini dulu ya kalau baru pertama kali berkunjung, soalnya untuk mencapai panorama air terjunnya kalian harus menyusuri sungai dan hutan sekitar 4 km. Mending masuk lewat pos 2, di sana ada tempat berfoto dengan panorama air terjun yang sangat cantik, lalu bila kalian ingin berpetualang baru turun ke bawah dan nanti keluarnya lewat pos Goa Tetes tadi.

Beruntung saat kami tiba di lokasi suasananya tidak begitu ramai, mungkin karena waktu yang kami pilih bukan saat weekend. Air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 120 meter ini memang seperti surga tersendiri di kawasan hutan ini. Surga yang bisa dilihat dari jauh tapi butuh perjuangan untuk mendekatinya. Benar sekali, butuh perjuangan yang lumayan melelahkan untuk bisa sampai di dekat air terjun. Tangga yang curam, sungai yang harus di susuri, hingga menapaki bebatuan yang licin akan kalian lalui. Terlebih jika ini pengalaman pertama kalian ke sini, saran saya sewalah guide untuk menemani perjalanan kalian ke dekat air terjun. Selain karena sudah mengenal medannya, mereka juga cukup handal untuk dimintai tolong menjadi fotografer dadakan. Tapi kalau kalian sudah cukup puas berfoto di bagian panorama, tidak perlu rasanya untuk menyewa guide.

Sewa guide di sini juga tak terlalu mahal, sekitar 150 ribu rupiah. Sekedar informasi untuk kalian yang membawa rombongan besar, gang masuk menuju parkiran tempat wisata tidak lah terlalu lebar, mungkin seukuran elf long saja. Kalaupun membawa bis kecil, parkirnya nanti berada di pinggir jalan raya Malang-Lumajang. Cuaca saat itu tidak begitu panas saat kami mulai berjalan dari area parkir. Jalanan yang menurun membuat kami saling lempar candaan, “ini nanti pulangnya bakal lebih sengsara, kayak di Air Terjun Dholo Kediri”. Nah buat kalian yang malas berjalan, kalian bisa menyewa ojek dari parkiran tadi menuju bagian panorama, cukup dengan membayar Rp 10 ribu saja.

Tibalah kami di tempat yang membuat kami berdecak kagum. Deretan air mengalir berjejer satu sama lain membuat Tumpak Sewu memang layak disebut Niagaranya Indonesia, tentunya dalam versi yang lebih kecil. Bisa di bilang Indonesia begitu kaya akan ragam wisata alam, sayangnya terkadang tidak terjaga sehingga malah membuat alam itu rusak. Kami pun segera mengambil beberapa sesi foto dengan berbagai sudut, mumpung masih leluasa karena pengunjungnya cuman 6 orang. Selesai berfoto dan menikmati panorama air terjun, kami memutuskan untuk turun ke bawah, melihat dari dekat surga di kawasan ini.

Petualangan yang sesungguhnya barulah di mulai. Tangga curam dan sedikit licin karena hujan semalam sudah menyambut kami. Saya pun memutuskan mengganti sepatu dengan sandal gunung yang sudah saya siapkan di tas. Tak jarang kami pun beberapa kali harus turun sambil sedikit jongkok untuk mengurangi resiko terpeleset. Di sepanjang jalan sudah dipasang pegangan tangan, sedikit mengurangin rasa was-was kami. Cuaca mendung dengan langit gelap perlahan mulai datang. Kami sepakat kalau hujan mulai turun, kami harus segera balik ke atas meskipun belum sampai ke air terjun mengingat medan yang kami lalui seperti ini. Dan benar saja, saat kami akan menyusuri sungai sehabis semua tangga terlewati, rintik hujan mulai turun.

Seperti kesepakatan di awal, kami pun memutuskan kembali ke atas. Kami memang suka berpetualang, tapi kami bukan tipikal orang yang nekat. Bagi kami keselamatan tetaplah yang utama, percuma kami memaksakan menikmati air terjun dari dekat lalu kemudian kondisi cuaca semakin buruk dan membahayakan diri kami. Mungkin kalau ada kesempatan lagi, next trip kami bakal mengekplore lebih jauh air terjun ini. Sebagai penutup perjalanan ini dan pelepas lelah, kehangatan pop mie plus kesegaran es kelapa muda menjadi santapan yang nikmat. Ah…..kangen sekali bisa traveling tanpa takut virus.

Terbaaaeeekkkkk

Leave a Reply