Hujan Pertama itu di Prambanan

Terik sinar matahari tiba-tiba mulai memudar, tertutup awan yang semakin berwarna gelap. Cuaca yang tadinya bersahabat perlahan menampakkan sisi lainnya, diiringi angin yang bertiup lebih kencang dari sebelumnya. Siang itu kami sedang menaiki kereta kelinci, berkeliling mengitari komplek salah satu candi tercantik di Indonesia. Bukannya malah khawatir atau gelisah karena takut cuaca ini mengganggu jalan-jalan kami, tetapi sebaliknya, kami cukup antusias menyambut turunnya air dari langit yang terlihat syahdu kala itu.

Musim hujan memang telah datang beberapa hari yang lalu. Kalau diingat-ingat, kami sudah lama tidak bermain di tengah guyuran hujan bersama, mungkin itulah salah satu alasan kenapa kami tidak begitu mengkhawatirkan hari ini. Bukankah dalam hujan itu menyimpan banyak kenangan? Begitulah kata yang sering kami dengar dari celetukan anak-anak muda zaman sekarang.

Langit sudah mulai mendung

Long weekend di akhir bulan Oktober ini memang kami berencana refresing sebentar ke Jogja, sebuah rencana yang sudah kami bahas berbulan-bulan lalu tapi belum terwujud. Rasa khawatir akan covid 19 tentu masih membayangi kami, takut kalau kami membawa pulang virus itu dan menularkan kepada orang terdekat kami. Apalagi itu libur panjang, bukan rahasia lagi kalau Jogja selalu menjadi incaran masyarakat buat berlibur. Tapi ada hal kuat yang membuat kami tetap berangkat, yaitu keinginan untuk sejenak keluar dari rutinitas sekaligus membantu (walaupun sedikit) mendorong perekonomian masyarakat kecil yang mana merekalah sebenarnya yang mengalami dampak paling parah dari virus ini.

Di masa pandemi seperti ini, penghormatan yang setinggi-tingginya patut diberikan kepada PT Taman Wisata Candi (TWC) selaku pengelola candi Prambanan. Mereka menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat tanpa mengurangi kenyamanan wisatawan. Mulai dari pengecekan suhu di gerbang masuk kendaraan, keharusan mencuci tangan sebelum membeli tiket, hingga penyemprotan disinfektan di bilik yang disediakan. Selain itu, pengunjung yang datang tiap harinya juga dibataai supaya tidak terjadi keramaian yang tak terkontrol (tiket bisa dibeli online kok kalau takut kehabisan kouta). Di berbagai sudut kawasan candi juga disediakan tempat cuci tangan (sebelum masuk pelataran dan saat keluar kita diharuskan mencuci tangan terlebih dahulu).

Kalau diingat-ingat, mungkin sudah lebih dari 5 kali saya ke sini, tapi ini pengalaman pertama kami ke sini bersama-sama. Tentu banyak yang berubah dari pada saat terakhir saya ke situs budaya ini, tapi kalau dilihat perubahan ini menuju ke arah yang lebih baik. Yang paling kami ingat dari kawasan ini adalah  kebersihannya. Dari dulu Prambanan memang sangat menjaga kebersihan lingkungannya, seakan-akan ingin menunjukkan bahwa dia adalah seorang ratu yang cantik dengan kulit yang bersih, cukup enak dilihat dan dipandang mata.

Perumpaan seorang ratu memang tak berlebihan mengingat candi ini identik sekali dengan cerita rakyat Roro Jonggrang, seorang putri cantik yang memberi syarat kepada Bandung Bondowoso untuk mendirikan seribu candi dalam semalam kalau memang dia ingin menikahinya. Cerita yang sudah sangat familiar buat masyarakat Indonesia.

Dan sesuai prediksi, hujan yang ditunggu itu turun dengan cukup deras sesaat setelah kami turun dari kereta kelinci. Kami lalu menghampiri bapak-bapak yang menyewakan payung. Inilah yang kami maksud sebelumnya, di masa pandemi seperti ini, orang-orang yang menyewakan payung seperti bapak tersebut tentu sangat merasakan dampaknya karena mereka sangat bergantung dari kehadiran wisatawan untuk menopang hidup. Mangkanya buat kalian yang berwisata dimanapun  saat pandemi, niatkanlah untuk membantu sesama supaya Allah juga menjaga kita agar tidak terkena virus itu. Kalaupun kena, yakinlah Allah akan memudahkan kita dalam melewatinya. Dan jangan lupa, jika kalian punya uang lebih, belilah atau sewalah barang yang mereka tawarkan meskipun kalian tidak begitu membutuhkan.

Sesaat sebelum hujan deras

Mungkin Candi Prambanan bukanlah tempat paling indah yang pernah kami kunjungi bersama, tapi candi ini telah meninggalkan kenangan tersenderi buat kami. Kenangan yang membuat perjalanan ke Jogja kali ini begitu berkesan. Dan akhirnya, di sinilah kami bisa behujan-hujanan bersama lagi setelah sekian lama. Ya benar……hujan pertama itu di Prambanan.

One Reply to “Hujan Pertama itu di Prambanan”

  1. Marvelous, what a web site it is! This weblog gives helpful informatiuon to us, keep it up. Michaelina Arnold Yul

Leave a Reply