Gili Trawangan – Kenangan Pertama Kami di Lombok

Tak lengkap rasanya kita berbicara Pulau Lombok tanpa bercerita tentang salah satu pulau ikonik yang membuat nama Lombok begitu mendunia. Pulau yang membuat Indonesia tidak hanya berkutat tentang Bali saja dalam urusan pariwisata. Bahkan sebelum nama Raja Ampat melegenda, gili ini telah memberikan warna tersendiri bagi wisatawan yang ingin suasana lain dari pada eksotisme keindahan Bali.  Yups, Gili Trawangan. Pulau yang terkadang orang-orang menyebutnya sebagai night party island karena suasana glamor dan kemeriahannya akan semakin terasa saat malam hari tiba.

Tak berlebihan jika kita menyebut gili yang berada di sebelah barat daya Pulau Lombok ini sebagai “pembuka” pariwisata di Pulau Lombok. Berkat keelokannya mempertontonkan dirinya ke wisatawan, gili-gili yang ada di Lombok pun ikut terangkat pamornya. Ujung-ujungnya mereka semakin mempercantik diri guna menyambut wisataan lokal maupun mancanegara melihat surga-surga tersembunyi di Lombok. Nama-nama seperti Gili Nanggu, Gili Kapal ataupun Pantai Pink mungkin akan tetap terasa asing di telinga kita kalau Gili Trawangan “tidak membuka” keindahannya terlebih dahulu, mangkanya sangat pantas kalau orang-orang menyebut Lombok adalah Gili Trawangan (seperti dulu orang-orang menyebut Bali adalah Sanur dan Kuta).

Untuk mencapainya, kita dapat menyeberang melalui Pelabuhan Bangsal yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan darat  dari Bandara Internasional Lombok. Gili Trawangan merupakan pulau terbesar di antara ketiga pulau di kawasan ini. Uniknya, selain Gili Trawangan, kedua pulau lainnya yaitu Gili Meno dan Gili Air juga menjadi incaran wisatawan untuk dikunjungi, meskipun wisatawan yang berkunjung di kedua pulau ini biasanya hanya mampir karena mereka lebih memilih menginap di Gili Trawangan. Sesampainya di Bangsal, ada 3 alat transportasi yang dapat kita pilih untuk menyeberang, yaitu:

1.Privat Speed Boat  

Ini buat kalian yang ingin bersenang-senang dan tidak terkendala budget hahaha. Harga sewanya paling murah 500 ribu untuk sekali jalan. Kalian tidak perlu menunggu penumpangnya penuh, mau 1 orang pun tetap langsung berangkat asalkan nego harganya cocok. Keunggulannya kalian bisa berfoto-foto bebas di atas speed boat tanpa terganggu penumpang lainnya, cocok buat kalian yang ingin terlihat tampil “mewah” di Instagram.

2. Fast Boat

Suasana di Fast Boat

Inilah kapal yang kami pakai untuk menyeberang. Harga tiketnya 85 ribu tiap orang, kapasitas maksimalnya 20 orang. Meskipun baru terisi setengah, asalkan waktu sudah menunjukkan jam berangkat, kapal ini akan tetap jalan. Cocoklah buat kalian-kalian yang tetap mengutamakan kenyamanan tapi tidak ingin mengeluarkan banyak uang hanya untuk menyewa kapal.

3. Public Boat

Inilah kapal penyeberangan paling murah, harganya hanya Rp 15 ribu untuk sekali jalan. Kelemahannya, kapal ini baru berangkat setelah kapasitasnya penuh yaitu sekitar 40 orang (atau mendekati jumlah itulah). Cocok buat kaum backpacker yang sangat memperhatikan budget dalam perjalanan wisatanya.

Mau makan siang/malam romantis ditepi pantai seperti ini? ^_^

Cuaca panas langsung menyambut kami saat kami mulai menjejakkan kaki di daratan setelah turun dari kapal. Meskipun terik panas menerpa badan kami, tetapi kami tetap bisa menikmati setiap jengkal langkah yang dilewati. Apalagi angin semilir yang berhembus membuat badan tetap terasa sejuk. Pikiran saya langsung berkata “This is holiday, lupakan sejenak pekerjaan, nikmati semua yang disuguhkan, dan buatlah kenangan yang indah bersama orang yang kita cintai”.

Makan siang

Mungkin tak sedikit dari kalian yang berkunjung ke sini akan terbesit pikiran “apakah ini masih di Indonesia?” Yups, sepanjang mata memandang turis mancanegara mendominasi pulau ini. Ada yang berjalan-jalan santai, bersepeda, atau berenang di kolam- outdor yang banyak tersedia di depan hotel tempat mereka menginap, tentu dengan pakaian ala pantainya yang terkesan “minim”(saran saya jangan mengajak anak remaja yang sedang masa puber ke sini, terlalu vulgar pemandangannya hehe). Bahkan mata uang dolar Amerika pun berlaku di sini, bersanding dengan rupiah.

Beli es krim

Scallywags Resort menjadi pilihan kami untuk menginap. Karena kami datang sebelum jam cek in, akhirnya kami memilih menitipkan tas dulu sambil mencari restoran untuk makan siang. Buat teman-teman muslim, hati-hati untuk memilih makanan dan minuman karena di sini daging babi dijual bebas dan rata-rata setiap restoran menyajikan bir sebagai minumannya. Saya dan istri memilih makanan yang kami yakini halal saja seperti roti, nasi goreng dan minuman jus buah atau air putih.

Sore hari kami memilih berjalan-jalan ke salah satu sisi pulau yang ada ikon di Trawangan yaitu ayunan ombak sunset. Sebenarnya ayunan ini dibangun oleh Hotel Ombak Sunset yang lokasinya berada di seberangnya untuk area foto pengunjung hotel tersebut, tapi karena begitu ikonik akhirnya menjadi jujukan para wisatawan tanpa terkecuali. Oh iya, kalian jangan berharap datang langsung bisa foto ya, soalnya antri banget, apalagi kalau kalian mengincar foto dengan background sunset, harus banyak-banyak bersabar.

Ayunan Ombak Sunset

Malam hari kami habiskan bersantai di salah satu restoran sambil menikmati hidangan prasmanan yang disediakan. Kalau pagi atau siang hari bule-bule sibuk berjemur atau snorkeling, pada malam harinya mereka banyak berkumpul di café-café sembari menikmati alunan musik dan tentunya sambil “minum-minum”. Inilah kenapa Gili Trawangan semakin terasa ramai saat malam hari tiba. Kami tak terlalu pusing dengan aktifitas bule-bule itu, kami hanya fokus terhadap diri kami, bercengkrama membahas banyak hal dan tentunya menikmati deretan lampu cantik di berbagai tepi pantai. Saat rasa kantuk mulai menyerang, kamar hotel pun menjadi jujukan kami selanjutnya, beristirahat sejenak untuk mengisi tenaga guna berkeliling lagi di keesokan hari.

Berkeliling pakai sepeda

 Selepas sarapan kami memutuskan untuk berkeliling menggunakan sepeda, harga sewanya sekitar Rp 50 ribu untuk setengah hari.  Canda tawa mengiringi jalan-jalan kami di sini, tentu hal yang sangat berkenang bisa bersepeda bersama istri sambil menikmati tepian pantai Trawangan. Perjalanan kami di Trawangan harus berakhir siang ini. Gili Meno menjadi tujuan menginap kami selanjutnya. Hikmah terbesar yang dapat saya petik di sini adalah nikmatilah setiap momen berharga bersama pasanganmu karena tidak setiap saat hal itu bisa terulang, dan yang terpenting kita berdua tahu cara bersama untuk berbahagia.

Ngafe pas senja

Leave a Reply