Perubahan Itu Pasti Terjadi, Yang Tak Pasti Hanya Kondisi Kita Saat Itu

Ada sebuah ungkapan klasik yang cukup terkenal terkait sebuah perubahan

Times change, people change, situations change, relationships change, the only thing constant is change

Pernah tidak kita mengalami suatu kondisi dimana kita yang sudah sangat nyaman terhadap sebuah situasi di lingkungan yang telah lama kita tempati tiba-tiba terasa “berubah” dan bahkan membuat kita seperti menjadi orang asing karena orang-orang yang selama ini bersama kita telah pergi dan diganti oleh orang-orang baru? Meskipun orang-orang baru itu juga orang-orang baik dan tidak membawa pengaruh yang buruk terhadap lingkungan tempat kita berada, tetapi kita tetap merasa ini bukan seperti lingkungan kita yang dulu. Pasti tak sedikit dari kita yang pernah mengalami hal tersebut, terlebih jika kalian bekerja di sebuah perusahaan yang sering kali bergonta ganti pegawai dalam beberapa tahun.

Sebagai contoh, kita telah lama bekerja di perusahaan A dan bekerja bersama orang-orang yang telah menjadi tim kita selama bertahun-tahun, tiba-tiba terjadi mutasi besar-besaran yang menyebabkan beberapa orang dari tim kita harus pindah ke cabang lain. Pengganti orang-orang tersebut sebenarnya cukup kompeten dan juga orang-orang baik, tidak membawa pengaruh negatif kepada perusahaan ini, bahkan orang-orang baru tersebut cepat menjadi akrab dan kompak satu sama lain. Dengan keakraban tersebut, mereka membentuk suatu kondisi yang sangat kondusif buat perusahaan, tetapi kita selaku orang lama di lingkungan tersebut akhirnya merasa malah kitalah yang menjadi orang baru karena harus menyesuaikan dengan situasi tersebut.

Apakah salah kalau tiba-tiba timbul perasaan seperti itu?

Tentu tidak, hal itu wajar terjadi buat orang-orang yang memasuki suatu perubahan, entah itu terkait people, situations, atau relationships. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah bisa tidak kita tetap menjadi bagian dalam perubahan itu? Bisakah kita tidak menjadi penghambat kalau memang perubahan itu tidak mengarah ke hal-hal negatif?

Jawabannya mungkin tergantung kondisi kita saat itu. Kondisi seberapa rela kita melepaskan keegoisan untuk menuntut situasi yang sama seperti dulu padahal dari dalam hati kita sendiri menyadari bahwa orang-orang di sekitar kita telah berganti. Tuntutan seperti itu terkadang membuat kita menutup diri dengan perubahan sehingga bisa menjadi bumerang buat diri kita. Bumerang itu dapat berbentuk seperti merasa menjadi orang asing di lingkungan tersebut, yang mana telah memberikan banyak kenangan buat kita, sehingga menimbulkan perasaan kurang nyaman. Efeknya kita bisa menjadi seorang yang apatis terhadap apa yang terjadi. Malah mungkin kalau tuntutan itu tak bisa diredam di hati, kita akan menjadi tembok penghambat buat terbuntuknya keharmonisan di lingkungan tersebut. Seenggaknya, minimal kita bisa menjadi silent reader, yang hanya mengikuti arus tanpa harus melawan, bila kita belum bisa menerima perubahan yang terjadi (dengan catatan perubahan itu tidak mengarah ke hal negatif).

Biarlah situasi dan kondisi yang menurut kita menyenangkan seperti dahulu menjadi kenangan yang berharga buat diri kita, menjadi suatu penanda bahwa kita pernah merasakan kebahagiaan sesuai dengan apa yang kita inginkan di lingkungan tersebut. Perubahan itu pasti selalu terjadi karena kehidupan akan terus berjalan, berputar, dan bergerak tanpa bisa kita atur sesuai apa yang kita inginkan. Nikmatilah setiap masa yang kita lalui dengan hal-hal yang positif, bukankah lebih menyejukkan kalau kita membangun kincir dari pada tembok?

Leave a Reply