Sudahkah Kita Lebih Sering Mengapresiasi Daripada Menuntut?

Masih ingat cerita dua orang yang berdebat soal berapa jumlah kaki gajah? Atau mungkin kita sering melihat gambar yang menceritakan perdebatan antara ini angka 6 atau 9? Kalau kalian pernah mendengar atau membacanya, satu kesimpulan utama yang dapat kita petik pelajaran adalah soal sudut pandangย  Lalu siapa yang benar? Mereka semua benar dalam persepsi mereka karena mereka mengutarakan dari apa yang mereka lihat. Si A melihat itu angka 6 karena dia melihatnya dari bawah, sementara si B melihat itu angka 9 karena dia melihat dari atas. Kalau mereka mau mengalah sebentar dan berusaha melihat dari sudut pandang lain, tentu perdebatan itu tak akan terjadi.

Ubahlah sudut pandangmu, mungkin itu bisa mengubah tindakanmu

Dalam kehidupan sehari-hari misalnya dalam sebuah pekerjaan, sangat sering ditemukan orang-orang yang bertipikal selalu menuntut sesuatu tapi dia lupa untuk mengapresiasi apa yang telah dilakukan teman atau anak buahnya tersebut. Contoh nyata dalam sebuah pengembangan produk baru, si A selaku bos dari si B memerintahkan untuk melakukan survei kepada korespondensinya tentang prodok baru yang dia tawarkan. Untuk mencapai hasil yang maksimal, Si B menanyai korespondennya itu dengan sangat teliti dan cermat sehingga dalam sehari dia cuman bisa menanyai 20 orang. Padahal harapan si A adalah tiap hari dia bisa mensurvei 30-an orang.

Lalu tibalah di hari kelima saat rapat pembahasan tentang produk baru tersebut. Dengan gampangnya si A men-judge si B telah gagal karena dia tidak bisa melaksanakan tugas yang telah dia berikan tanpa melihat hasil survei yang diberikan Okelah selaku bos mungkin kalian bisa berpikir seperti itu, tapi coba kita lihat apa yang dibawa si B, sebuah data yang sangat bagus karena dia melakukan survei dengan sangat cermat sehingga data yang dia hasilkan bisa sangat membantu pengembangan produk baru tersebut. Apalah arti banyak responden tapi datanya tidak jelas? Hanya buang-buang waktu kan? Lain cerita kalau hasil survei si B di bawah target dan data yang diberikan juga tidak jelas, wajarlah kalau kalian selaku bos akan marah-marah.

Dari sedikit ilustrasi di atas coba kalau kita menjadi si A dan kita berusaha mengapresiasi kinerja bawahan kita terlebih dahulu, melihat usaha dia dalam bekerja, baru melihat target yang ditentukan. Tentu terasa lebih adil bukan? Tidak selamanya kita harus selalu menuntut apa yang harus orang lain lakukan, tapi kita harus lebih mengapresiasi apa yang telah orang lain lakukan.

Mengapresiasi erat hubungannya dengan berpikir positif

Saya jadi ingat kicauan salah satu penulis di Indonesia perihal pajak. Apakah kalian sudah membayar pajak penghasilan dengan benar dan melaporkan SPT Tahunan tepat waktu? Kalau sudah anda berhak menuntut pemerintah ini dan itu. Tapi kalau kalian pelum melakukan itu tapi tuntutan kalian sudah melebihi orang-orang yang telah membayar pajak untuk negara, apakah itu namanya keadilan? So, terlepas dari itu, mulai sekarang usahakan kita lebih banyak mengapresiasi, entah itu kepada anak buah, teman, anak, dll dari pada harus banyak menuntut.

Ingat, semakin banyak kita menuntut, semakin banyak rasa tidak puas dalam diri kita. Semakin banyak kita mengapresiasi, semakin banyak juga rasa syukur yang ada di diri kita.

Leave a Reply