Menyapa Suku Sasak di Desa Adat Sade

Lombok Punya Cerita. Pulau Lombok memiliki suku asli yang bernama Suku Sasak. Konon katanya orang Sasak merupakan keturunan  antara penduduk asli Lombok dengan para imigran  dari pulau Jawa, mangkanya mereka mengenal “Ha-Na-Ca-Ra-Ka” dalam sistem aksaranya. Tak jauh dari Kota Mataram, ada sebuah desa yang di dalamnya masih dihuni orang-orang asli Sasak yang mana mereka sangat kuat dalam mempertahankan adat budaya mereka. Kalau kalian menuju ke Pantai Kuta dari arah Mataram, kalian bisa mampir sebentar ke desa adat ini.

SADE. Itulah nama desa adat yang sering menjadi kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara. Berada di Desa Rembitan, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, kalian tidak akan sulit untuk menemukan lokasinya karena berada di pinggir jalan raya. Meskipun di pinggir jalan utama menuju ke kawasan wisata Mandalika, tapi kesan tradisional akan sangat kental kalian rasakan saat masuk ke sana.

Atap rumah Suku Sasak

Seperti Tak Mengenal Arus Moderenisasi

Mungkin ungkapan itu cocok menggambarkan kondisi Desa Sade di tengah kemajuan pesat yang di alami Pulau Lombok. Dinding rumahnya masih berasal dari anyaman bambu, lantainya dari tanah liat dan atapnya merupakan tumpukan-tumpukan alang. Meskipun begitu rumah ini dipercaya tahan terhadap gempa karena pondasinya yang dibuat kokoh.

Salah satu sudut di Desa Sade

Saat kita sampai di sana, kita langsung didatangi tour guide yang telah siap di parkiran. Kalian tidak perlu menolaknya karena mereka tidak memasang tarif khusus untuk menemani kalian berkeliling desa adat ini, cukup kasih uang sepantasnya saat nanti kalian berpisah. Tour guide ini merupakan warga asli desa tersebut. Hitung-hitung sebagai penghasilan tambahan buat mereka karena rata-rata pekerjaan utama mereka adalah bertani dan berternak. Lagian mereka juga ramah-ramah dan akan senang hati membantu kalian mengambil foto (jepretannya lumayan bagus kok, mungkin sudah terlatih karena sering dimintain tolong mengambilkan foto).

Tipe-tipe rumah yang ada di desa ini menjadi topic pembukaan tour guide kami bercerita, tentunya setelah dia memperkenalkan dirinya. Secara garis besar ada 3 jenis rumah di sini yaitu Bale Bonter yang digunakan ataui ditinggali oleh petinggi atau pejabat desa. Yang kedua adalah Bale Kodong, tipe ini ditempati oleh orang yang baru menikah dan belum mempunyai rumah sendiri serta ditempati juga oleh orang-orang yang sudah lanjut usia dan ingin menghabiskan masa tuanya. Yang terakhir adalah Bale Tani, rumah ini ditempati masyarakat pada umumnya yang sudah berkeluarga.

Rumah tradisional yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu

Dalam Bale Tani, pintu rumah adat Desa Sade Lombok dibuat rendah agar setiap tamu yang datang menghormati pemilik rumah. Ruangan depan (Bale Luar) digunakan untuk menerima tamu dan sebagai tempat tidur laki-laki sedangkan Bale Dalam diperuntukkan tempat tidur wanita dan sebagai tempat melahirkan. Untuk mencapai Bale Dalam, kita harus menaiki 3 anak tangga yang mencerminkan kehidupan, yaitu, dilahirkan, berkembang, dan meninggal.

Masjid yang ada di Desa Sade

Keunikan lain dari rumah di sini adalah cara membersihkan lantainya. Mereka menggunakan kotoran kerbau. Serius pakai kotoran? Datang saja ke sana pas lagi ada yang membersihkan rumah. Tujuannya selain supaya lantai bersih dari debu juga untuk mencegah serangga seperti nyamuk tidak masuk ke dalam rumah. Apa tidak bau? Silahkan cek sendiri, pas kami masuk ke rumah-rumah mereka tidak ada bau kotoran hewan yang kami cium, sangat unik kan.

Tradisi lainnya dari Suku Sasak adalah wanita dilarang menikah kalau dia belum bisa menenun. Sudah menjadi tradisi yang telah turun temurun kalau wanita Sasak sangat pandai menenun, mangkanya kalau dia belum bisa menenun maka dia belum dianggap “lulus” sehingga tidak boleh menikah. Proses pembuatan kain tenun sendiri memakan waktu lama, bisa sampai berbulan-bulan tergantung motifnya. Semakin lama proses buatnya dan semakin rumit motifnya, maka harganya juga semakin mahal.

Hasil kerajinan tangan wanita Sasak

Terakhir ada satu lagi tradisi yang sangat langka di manapun, Tradisi Kawin Culik dalam pernikahan. Ceritanya jika seorang laki-laki naksir wanita Suku Sasak dan ingin menikahinya, maka dia harus menculiknya tanpa ketahuan orang-orang, bisaanya hal itu dibantu oleh keluarga si laki-laki dan dilakukan malam hari. Tapi menculik di sini bukan untuk diapa-apain ya, si wanita tersebut akan ditempatkan di rumah kerabat laki-laki dan tentunya diperlakukan dengan baik (bisaanya sang wanita dan laki-laki yang sudah dipilihnya itu sudah membuat janji kapan prosesi kawin culik ini dilakukan). Setelah beberapa hari, keluarga laki-laki tersebut memberitahukan kepada keluarga wanita bahwa telah terjadi prosesi kawin culik. Lalu jika keluarga wanita merestuinya maka akan diadakan musyawarah untuk menentukan tanggal pernikahannya.

Mencoba menenun

Tak terasa hamper 1 jam-an kami berjalan-jalan dan mendengarkan cerita dari tour guide. Setelah meminta tolong di ambilkan foto di depan gerbang masuk desa adat ini, kami berpamitan kepada dia. Ucapan terima kasih dan sedikit tip dari kami tak lupa kami sampaikan. Buat kalian yang ada kesempatan main ke Pulau Lombok, setidaknya sempatkanlah mampir ke Desa Adat Sade walaupun hanya sebentar untuk menambah wawasan kita tentang kultur dan tradisi dari Suku Sasak ^_^

Leave a Reply