Hidup Seperti Permainan Catur, Semua Sudah Ada Polanya

Bisa dibilang catur merupakan olahraga yang membosankan buat banyak orang, olahraga yang lebih menguras otak dari pada keringat. Tapi kalau kita dalami lebih jauh, ada banyak pelajaran yang bisa kita pelajari dari permainan yang satu ini, yaitu POLA.

Kuda harus melangkah L, benteng yang hanya bisa melangkah lurus, bishop/gajah berjalan miring sesuai warnanya, atau Raja yang bisa berjalan ke segala penjuru tetapi hanya satu langkah saja. Semua sudah terpola hingga membentuk suatu tatanan dalam permainan. Permainan menjadi tidak sah kalau pemain keluar dari pola tersebut. Siapa yang menciptakan pola permainan catur seperti itu? Entahlah, konon katanya permainan ini berasal dari India.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga memiliki pola-pola yang sudah seharusnya kita laksanakan supaya “permainan” ini menjadi sah. Sah dalam arti apa yang sudah menjadi kodratnya dapat dijalankan sebagaimana mestinya sehingga tidak ada norma-norma kehidupan yang dilanggar.

Siapa pencipta pola dalam kehidupan manusia? Tuhan. Manusia sebagai pemain dalam permainan ini hanya bersikap menjalankan.

Beberapa tahun belakangan ini ramai sebuah fenomena yang sangat unik, bahkan bisa dibilang kita seperti berjalan ke arah belakang untuk jaman yang serba canggih seperti ini. Yups, tuntutan pelegalan hubungan sesama jenis dan transgender atau yang biasa kita sebut dengan istilah LGBT. Sesuatu yang bahkan hewan pun tak pernah melakukannya. Kenapa manusia yang dibekali akal pikiran bisa melakukan tindakan seperti itu?

Mereka yang menuntut pelegalan seperti itu berasumsi bahwa setiap manusia memiliki kebebasan atas dirinya sendiri selama tidak mengganggu hak asasi orang lain. Mereka berlindung dibalik sebuah nama yang bernama HAM. Saat beberapa negara melarang, aktivis-aktivis ini berjuang memakai logika yang terkadang juga tak masuk akal. Kenapa negara mengurusi urusan pribadi atau secara kasar kenapa negara harus mengurusi urusan “percintaan” padahal mereka tidak mengganggu orang lain dan tidak melakukan tindak pidana? Toh mereka melakukan itu tanpa paksaan, mereka saling suka atas dasar “cinta”. Sebuah logika yang sangat sempit dan aneh karena itu merupakan pembangunan logika di atas hawa nafsu semata.

Ingat, Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan. Tuhan menciptakan sebuah pola kehidupan yang mana laki-laki harus berpasangan dengan perempuan untuk menghasilkan keturunan. Pola yang sudah menjadi kodrat sejak Tuhan menciptakan manusia pertama kali. Lalu bagaimana ceritanya kalau laki-laki berpasangan dengan laki-laki atau perempuan berpasangan dengan perempuan? Mereka tentu tidak akan menghasilkan keturunan karena memang ada pola yang dilanggar. Selain hal itu, ada banyak penyakit menular yang mengancam mereka bila tetap melakukan hubungan seperti itu.

Contoh di atas hanyalah salah satu bentuk pelanggaran terhadap pola-pola yang sudah ditentukan, masih banyak lagi sebenarnya bentuk-bentuk pelanggaran itu kalau kita mau berdiam sejenak lalu merenungi hal tersebut. Begitu banyak pola-pola dasar yang telah ditetapkan Tuhan, mana yang baik dan mana yang buruk, semua sudah ada panduannya. Tujuannya bukan untuk mengekang manusia, tetapi malah untuk kebaikan manusia. Saat pola itu dilanggar, tentu akan ada konsekuensi yang mereka jalani. Dan saat manusia mulai banyak melakukan pelanggaran terhadap pola-pola itu, maka “permainan catur” ini mungkin akan segera berakhir, atau setidaknya akan banyak hukuman-hukuman yang diturunkan Tuhan sebagai pencipta dari pola kehidupan tersebut.

Leave a Reply