Sudahkah Kita “Bersabar dan Menikmati Setiap Proses Yang Terjadi?”

Stadion Luzhniki di Kota Moskow menjadi saksi sejarah kedigdayaan Inggris di tahun itu. Negara yang katanya memiliki liga sepakbola terbaik itu mengirimkan 2 wakilnya di Final Liga Champions 2007/2008. Final yang mempertemukan Manchester United dan Chelsea itu mungkin akan diingat sebagai salah satu kenangan terburuk fans Chelsea karena kegagalan kaptennya, John Terry, yang tergelincir saat menendang penalti. Tapi lebih dari itu, final itu memberikan gambaran sesungguhnya bahwa keberhasilan itu berawal dari proses. Atau mungkin kalau dibalik siapa yang sabar dan menikmati setiap proses yang ada, dialah pemenangnya.

Bagi pecinta sepak bola, tentu kalian tahu beda mendasar antara 2 klub di atas. MU merupakan klub yang kaya akan sejarah, sementara Chelsea merupakan klub “instan” yang dibangun lewat gelontoran uang yang sangat besar dari pemiliknya pada tahun 2000-an. Memang cara instan terkadang berhasil mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tapi bukankah membangun sesuatu lewat sebuah proses itu jauh lebih mengesankan?

Setelah meraih treble winner pada tahun 1999 dengan skuad yang melegenda itu, kisah MU di Liga Champions seakan-akan tak pernah semujur saat itu. 2 tahun berturut-turut mereka kandas di perempat final. Memasuki tahun 2001/2002 mereka melepas beberapa pemain yang menjadi tulang punggung di tahun 1999. Hasilnya? Mentok di semifinal. Padahal mereka memiliki salah satu striker paling berbahaya saat itu, Ruud Van Nistelrooy, yang mana di tahun itu juga dia keluar sebagai top skor Liga Champions. Setahun berikutnya mereka kandas di perempat final, dan lagi-lagi Nistelrooy keluar sebagai top skor. Sebuah prestasi individual yang sungguh luar biasa untuk seorang pemain bisa menggapai capaian itu 2 musim berturut-turut di ajang sebesar ini, itu bukti bahwa skuad MU tidaklah buruk saat itu.

Apakah ada yang salah dengan tim ini? Padahal mereka memiliki penyerang hebat, lini tengah bintang 5 dan stadion yang “angker” dengan suporter fanatiknya. Mungkin jawaban atas kegagalan itu adalah tim ini butuh motivasi lebih saat tampil di Liga Champions mengingat sebagian besar pemainnya telah mencapai semua gelar bergengsi di level klub.

Tahun 2003 mulailah terjadi perombakan besar-besar. Bintang-bintang yang dirasa sudah terlalu tua dan kehilangan motivasi mulai dilepas satu persatu, begitu juga dengan bintang yang mulai “membangkang” kepada pelatih. Siapa yang tak kenal David Beckham? Ikon Inggris saat itu, yang menginspirasi banyak anak-anak muda penyuka sepakbola untuk menyukai nomor punggung 7 (bahkan mungkin dia adalah pesepakbola paling terkenal saat itu). Dia dilepas ke Real Madrid. Gantinya?  Pemuda 18 tahun asal Portugal yang nama dan kemampuannya belum terdengar di dunia luar pada saat itu, Cristiano Ronaldo. Lalu setahun berikutnya, Sir Alex Ferguson, pelatih MU, kembali merekrut pemuda 18 tahun dari kota Merseyside, Wayne Rooney.

Perjudian?

Mungkin saja. Tapi bukankah dulu saat Ferguson membangun skuad legendaris 99, dasar utama skuad itu adalah anak-anak muda yang terkenal dengan Clash 92? Apakah mereka langsung sukses? Tentu saja tidak, buah kesabaran dan kepercayaan manajemen kepada Ferguson lah yang akhirnya berbuah kenangan manis itu. Mereka menikmati setiap momen anak-anak muda itu berkembang, proses demi proses hingga mereka matang dan akhirnya sejarah itu tercipta.

Kembali ke tahun 2006, MU terpaksa harus melepas striker andalannya Ruud Van Nistelrooy, padahal dalam kurun waktu 5 tahun dia berhasil menggapai 3 kali top skor Liga Champions. Sang pemain lebih memilih hijrah ke Real Madrid. Alasan dia pergi? Karena dia tidak bisa menikmati setiap proses yang ada.

Dan sekali lagi, hasil instan tak langsung didapatkan. Musim 2005/2006, Manchester United berada di juru kunci penyisihan grup Liga Champions. Sebuah aib untuk sebuah tim sebesar MU, mereka hanya menang sekali. Yang lebih memalukan lagi, mereka berada 1 grup dengan tim-tim seperti Benfica, Lille, dan Villareal yang secara matematis seharusnya bisa mereka kalahkan (tanpa bermaksud meremehkan tim-tim tersebut, tapi komposisi skuad MU jauh lebih mentereng).

Buah dari kesabaran mereka akhirnya terbayarkan juga. Setelah 9 tahun menunggu, tepatnya di musim 2007/2008, akhirnya mereka bisa mengangkat trofi Liga Champions lagi. Tak berhenti di situ, setahun berikutnya mereka juga bisa mencapai final lagi, meskipun harus kalah oleh The Dream Team Barcelona asuhan Pep Guardiola. Sebuah capaian luar biasa dari sebuah proses yang dibangun sejak tahun 2000-an.

Menikmati Proses Untuk Terus Bekembang

Kisah Manchester United di atas mungkin bisa kita ambil pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Tak selamanya semua keinginan kita langsung bisa dicapai. Ada banyak proses dan perjuangan untuk mencapai titik di mana suatu tujuan dari cita-cita kita itu berada. Terkadang kegagalan tak luput mengiringi kita. Kalau setiap keinginan kita langsung tercapai, lalu dari mana kita belajar bersabar dan memohon kepada Tuhan? Bukankah Tuhan suka orang-orang yang bersabar dan berdoa kepada-Nya? Padahal kalau kita nikmati, setiap proses yang terjadi malah bisa menjadi sebuah kenangan yang akan bisa kita ceritakan dikemudian hari.

Saya bukan fans berat Manchester United karena hati saya berada di Turin, tapi dari klub itu kita pernah diajari bagaimana cara bersabar dalam menikmati setiap proses yang terjadi.

Leave a Reply