Pernahkah Kita “Terus Berjuang Tanpa Mengenal Kata Menyerah?”

I Dont stop when i’m tired. I’m stop when i’m done.

Pernah mengenal istilah itu? Istilah yang terkenal di komunitas anak-anak running itu sebenarnya bisa kita implementasikan ke banyak hal dalam kehidupan kita. Saat kita sedang mengikuti sebuah event lari dengan jarak 21k atau yang terkenal dengan half marathon, saat kita telah mencapai jarak 18k, tiba-tiba saja tubuh ini terasa sangat lelah untuk terus berlari, padahal garis finish tinggal sedikit lagi. Lalu dari arah belakang ada pelari lain yang meneriaki kita untuk tetap semangat dan berjuang mengejar finish. Dan tanpa sadar muncul kekuatan tak terduga dari diri kita untuk terus berlari, berlari, dan berlari karena ingat pepatah itu, “aku hanya akan berhenti kalau aku sudah menyelesaikannya”. Yes….when i’m finish.

Pantang menyerah

Kalimat itu mungkin gampang sekali diucapkan, apalagi buat mereka yang hanya melihat, bukan sebagai pelakunya. Rasa lelah, rasa pesimis, rasa tak sanggup, dan berbagai perasaan-perasaan lain yang membuat langkah kita semakin berat tentu akan kita rasakan dalam setiap langkah kita mengejar target itu. Tapi saat perasaan-perasaan itu telah menguasai pikiran kita, maka tubuh kita pun tanpa sadar akan mengikutinya. Tubuh akan benar-benar lelah dan terasa tak sanggup lagi “berlari”, padahal sebenarnya kita masih bisa menyelesaikannya. Dan saat itu terjadi, maka kita telah benar-benar kalah dalam arti yang sesungguhnya.

Masih ingatkah 2 final legendaris Liga Champions Eropa tahun 1999 dan tahun 2005?

2 buah final yang sangat melegenda, bukti bahwa saat peluit panjang belum berbunyi maka mereka akan terus berlari mengejar bola dan berjuang mencetak gol. Tahun 1999 menjadi sebuah sejarah untuk kota Manchester (bukan Manchester yang berwarna biru ya). Saat Manchester United sedang memainkan finalnya melawan Bayer Munich dan mereka tertinggal 1-0 sampai menit 90. Yups betul, menit 90 atau bisa dibilang harapan mereka hanya tinggal di masa injury time (saat itu tambahan waktu 4 menit saja). Padahal mereka berpeluang mendapatkan treble winner untuk yang pertama kalinya apabila mereka menang, sesuatu yang akan sulit disamai oleh club manapun di dunia. Dan kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya? SEJARAH. Mereka mencetak 2 gol pada masa injury time oleh 2 orang pemain pengganti.

Yang kedua adalah final tahun 2005 antara Liverpool dan Ac Milan, yang kemudian terkenal dengan istilah Miracle of Istanbul. Ac Milan dengan skuad bintangnya sangat diunggulkan dalam pertandingan itu dan terbukti pada babak 1 saja mereka telah unggul 3-0, sebuah skor yang mungkin sangat mustahil untuk dikejar, apalagi melawan tim bertabur bintang. Supporter AC Milan pun sudah banyak yang berpesta saat jeda istirahat. Kalian tentu tahu apa yang terjadi setelahnya, kurang dari 12 menit saja Liverpool bisa menyamakan kedudukan, dan mereka akhirnya keluar sebagai juara melalui drama adu pinalti. Andai pertandingan itu digelar hanya 50 menit, tentu AC Milan akan juara. Namun sayang, sepakbola adalah pertandingan 90 menit dan selama itu segala kemungkinan masih bisa terjadi.

Apa kesamaan dari kedua pertandingan itu?

Baik Manchester United dan Liverpool tidak pernah menyerah sampai peluit panjang berakhir. Sesuatu yang dirasa tidak mungkin ternyata bisa terjadi buat mereka. Bukankah Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kalau mereka tidak mau berjuang untuk mengubahnya sendiri?  Kedua klub itu telah membuktikan kepada kita. So, teruslah berjuang dan berdoa karena saat kamu merasa perjuanganmu sia-sia, yakinlah bahwa tidak ada yang sia-sia di muka bumi ini selama apa yang kita lakukan adalah perbuatan yang baik. Dan kita selalu punya Tuhan sebagai tempat untuk meminta dan memohon pertolongan ^_^

Leave a Reply