Pernahkah Kita “Bersikap Realistis Tanpa Ada Rasa Pesimis Di Dalamnya?”

Duh, bagaimana aku bisa mencapainya kalau sumber daya yang aku miliki terbatas seperti ini?

Teman-teman, pernahkan kita mendengar kalimat tersebut? Kalimat itu sering kita dengar saat kita sedang menerima sebuah target atau tantangan, bisa dari atasan atau dari target individual yang kita tetapkan sendiri. Dalam setiap hal, pasti kita pernah ragu apakah kita bisa menyelesaikan beban atau pekerjaan tersebut. Banyak sekali faktor yang membuat kita menjadi ragu seperti mepetnya jangka waktu, keterbatasan sumber daya, kurangnya ilmu pengetahuan atau lain-lain. Terkadang target yang diberikan juga terasa terlalu tinggi sehingga tanpa sadar sikap pesimis muncul dibenak kita.

Itu bukan pesimis, tapi REALISTIS.

Ok, thats right jika kamu beranggapan seperti itu. Tapi apakah kamu tahu perbedaan mendasar sikap pesimis dan realistis? Mari kita ungkap sedikit perbedaannya. Saat kita belum melakukan apapun atau mungkin belum mengerahkan seluruh tenaga untuk mengejar target itu lalu kita berkata, “target itu tidak masuk akal” atau “target itu terlalu tinggi”, maka saat itu kita sedang dalam pola pemikiran yang pesimis. Tapi jika kita bilang, “siap, akan saya kejar target itu”, lalu kita mengupayakan semaksimal mungkin lalu di saat-saat terakhir saat semua kemungkinan sudah kita coba dan sudah kita petakan sedemikian rupa lalu target itu masih terlihat tidak bisa dicapai, maka saat itulah yang dinamakan realistis.

Lalu apa beda kedua sikap itu? Pesimis cenderung terjadi di awal, sementara realistis terjadi di akhir. Efek yang paling terasa adalah pola kerja yang terbentuk. Saat dari awal kita sudah bersikap pesimis, maka kinerja kita akan cenderung lebih melambat karena telah terbentuk mindset di otak kita kalau target itu tidak masuk akal. Tapi jika dari awal pola pemikiran seperti itu sudah jauh dari benak kita, maka kinerja yang penuh semangat untuk mengejar target akan tanpa sadar mengiringi kita. Lalu saat sudah mendekati deadline dan dirasa target itu masih terlalu tinggi, maka itu bukan suatu kegagalan buat kita karena kita telah berupaya dengan keras untuk mengejarnya. Tidak semua ketidakmampuan dalam memenuhi target adalah suatu kesalahan atau kegagalan karena masih banyak orang disekitar kita yang menghargai proses, tapi bersikap pesimis dan tidak mengupayakannya dengan sekuat tenaga itulah yang dinamakan kegagalan.

Ingat, Tuhan tidak akan memberikan beban yang melebihi kemampuan hambanya. Tuhan memberikan beban sedemikian besar kepada kita karena Dia tahu kalau kita mampu menyelesaikannya dan percayalah tangan-Nya akan selalu membantu kita jika kita memohon dan meminta.

Maka dari itu, mulai dari sekarang kurangilah sikap pesimis dalam diri kita, sebarkan aura postif dengan bersikap optimis. Jika kita telah bekerja keras dan ternyata target itu belum bisa dicapai, maka atasan kita tentu akan menganalisis ulang target kita di masa yang akan datang. Dan kalau atasan meminta jawaban kenapa kita tidak bisa mencapainya, kita tinggal tunjukkan bukti-bukti dan segala kemungkinan yang telah kita lakukan demi mengejar target itu supaya atasan mengerti kalau target itu terlalu tinggi. Lalu bagaimana kalau atasan kita tetap tidak mau memahami dan mengerti juga? Kalian punya sepatu kan? Lemparkan saja ke dia dan tantang dia untuk mengerjakannya sendiri hahaha

Leave a Reply