Pernahkah Kita “Memberi Kepercayaan Kepada Anak Muda?”

Mungkin dari kita pernah memandang sebelah mata saat anak yang relatif masih muda untuk sebuah profesi sedang menangani permasalahan yang melibatkan kita. Sebagai contoh, saat kita sedang sakit lalu pergi berobat ke rumah sakit, ternyata yang menangani kita adalah seorang dokter yang masih relatif muda. Lalu setelah kita di periksa dan diberi obat, tiba-tiba di dalam benak kita terbesit pikiran, “ini dokter gak salah diagnosis dan ngaaih obat kan? Soalnya masih muda banget”. Berbeda bila yang menangani kita adalah dokter senior, tingkat kekawatiran seperti itu mungkin tidak akan muncul sebesar saat kita ditangani dokter muda tadi.

Sebagai contoh lain, saat kita berada dalam sebuah organisasi atau perusahaan, ketika ada suatu acara seperti perpisahan pegawai atau acara-acara tertentu yang biasanya kita berperan sebagai EO nya (bagian sibuk yang membuat acaranyalah), suatu ketika orang-orang yang biasa ribet bersama kita harus berganti. Kebetulan, yang menggantikan adalah anak-anak muda yang baru bergabung dengan perusahaan ini. Tentu akan muncul di benak kita pemikiran seperti contoh di atas tadi, “bisa gak ya acara nanti sukses kayak biasanya, anak-anak muda ini bisa handle acara apa tidak ya, terus nanti bla bla bla……………”. Yups, pikiran-pikiran negatif seperti itu akan bertebaran di otak kita selaku orang yang menganggap dirinya “senior” di tim itu.

PENGALAMAN

Itulah kata yang harusnya ada dipikiran kita, bukan kata-kata negatif seperti contoh di atas. Sebuah kata yang bisa kita dapatkan dari latihan yang berulang-ulang. Tentu dalam sebuah latihan, kata salah dan gagal akan sering mengiringi kita, tapi dari kegagalan itulah kita akan mendapatkan sebuah pelajaran berharga yang membentuk pengalaman dalam diri kita. Coba kita renungkan sejenak, bukankah kita dulu pernah berada dalam posisi seperti anak-anak muda itu? Dan mungkin tidak sedikit juga yang meragukan kita?

Saat kita baru pertama bergabung dengan tim ini, kita datang sebagai anak muda yang tidak punya (atau mungkin sedikit) pengalaman untuk meng-handle sebuah acara, apalagi di setiap organisasi atau perusahaan memiliki kultur dan budaya yang berbeda. Lalu terkadang kita salah memilih langkah atau kelupaan tentang sesuatu (biasanya sih hal-hal kecil yang sering tidak terpikirkan), yang mana kesalahan-kesalahan itu memberikan pelajaran kepada kita untuk acara-acara selanjutnya. Kesalahan merupakan hal yang wajar dalam setiap pembelajaran, meskipun terkadang ada beberapa kesalahan yang tidak bisa ditolerin dalam pekerjaan professional.

Di sini saya cuman ingin kita sama-sama mengambil sebuah kesepahaman, kalau anak-anak muda itu tidak diberi kesempatan, lalu dari mana mereka mendapatkan pengalaman yang berharga? Kalau mereka tidak diberi kepercayaan, lalu dari mana mereka mendapatkan rasa percaya diri untuk berperan dalam suatu hal besar? Bukankah kita dulu pernah ada diposisi seperti mereka lalu terkadang kita marah saat tidak diberi kesempatan dan kepercayaan untuk membuktikan kalau kita ini juga bisa?

Kita berada diposisi seperti saat ini karena kita telah diberi kesempatan dan kepercayaan oleh senior-senior kita dulu dan sekarang tugas kita adalah memberi mereka hal tersebut, mengawal dan memberi masukan kepada mereka tanpa bersikap seperti menggurui, tapi lebih bersikap sebagai teman diskusi. So, jangan terlalu banyak berpikiran negatif terhadap anak-anak muda yang sedang berusaha keras untuk meraih atau membuktikan sesuatu, just give them a chance karena generasi baru akan terus muncul.

Leave a Reply