Madakaripura ”The Greatest Waterfall In Java“

Cuaca yang cerah di minggu pagi seperti memberikan senyum manis untuk kami dalam menikmati hari terakhir di sini. Meskipun tubuh masih pegal-pegal ditambah dengan beberapa gigitan nyamuk yang meninggalkan bekas, tapi keceriaan dan semangat kami masih sangat luar biasa, bahkan seperti tidak ada tanda-tanda kelelahan di raut wajah kami. Tujuan terakhir kami dalam eksplore Porbolinggo kali ini adalah Air Terjun Madakaripura. Lokasinya yang sejalan dengan arah kami pulang ke Blitar karena berada di perbatasan Probolinggo dan Pasuruan seakan-akan memberi kesan kalau Madakaripura  adalah hidangan penutup dengan rasa yang sangat lezat dalam sebuah jamuan makan besar.

Terima kasih Mas Dwi atas tumpangan menginapnya

Waktu menunjukkan pukul 07.00 saat kami berpamitan dengan sahabat kami dari kantor Probolinggo selaku penanggung jawab rumah dinas ini. Ucapan terima kasih sedalam-dalamnya kami ucapkan karena telah diberikan tumpangan menginap selama 2 malam di sini. Perjalanan menuju Madakaripura sekitar 40 km. Sebelum sampai ke sana kami mengisi perut dulu di @warungkencur yang berada di Jalan Raya Banjarsari-Probolinggo, tempat parkirnya luas dan cocok buat istirahat bagi teman-teman yang melintasi daerah ini.

Sarapan dulu di Warung Kencur

Berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Madakaripura memiliki ketinggian sekitar 200 m. Menurut informasi yang beredar, air terjun ini merupakan yang tertinggi di Pulau Jawa. Sesampainya di parkiran mobil, sudah banyak ojek-ojek yang menghampiri kami untuk menawarkan jasanya mengantar sampai pintu masuk air terjun. Dulu mobil memang bisa parkir di dekat pintu masuk, namun sekarang hanya motor yang boleh parkir di sana.

“Ädoh mas lhak mlaku, enek 5 km, durung mengko mlakune nang air terjun. Ngojek ae mas murah, 10 ewu wis gag kesel”, rayu para tukang ojek itu kepada kami.

5 km? hmm…..kami yang sebagian besar anak runner malah penasaran apa benar memang segitu jaraknya. Sebenarnya murah kok harga ojek segitu, kalian juga tidak perlu capek-capek jalan ke pintu masuk, cuman karena kami memang ingin jalan-jalan dan menikmati kesejukan udara di kaki Gunung Bromo, maka dari itulah kami memilih berjalan kaki. Dan kalian tahu berapa jarak aslinya? Sekitar 2,3 km saja (mungkin maksud mas-mas ojek tadi jarak 5 km itu PP hahaha). Tapi saran saya kalau kalian ke sini, naik ojek sajalah, wroth it kok harga segitu dari pada harus jalan 2 km.

Di depan pintu masuk berjejer gubuk-gubuk orang berjualan makanan. Kami memilih salah satu gubuk sebagai tempat untuk menitipkan barang sambil mencicipi gorengan hangat yang beliau jual. Saat kami masih istirahat sejenak karena capek jalan, rombongan anak kecil menghampiri kami menawarkan jas hujan dan plastik tempat hp supaya nanti tidak basah saat di bawah air terjun. Harga untuk plastik tempat hp yaitu Rp  15.000 dan untuk jas hujas Rp 10.000. Lucu sih melihat cara mereka menawarkan kepada kami, pas kami tanya keuntungan hasil jualan ini untuk apa, mereka kompak menjawab untuk beli jajan hehehe.

Untuk masuk ke kawasan air terjun, kami cukup membayar 20 ribu tiap orang. Terlihat patung Gajah Mada, mahapatih Majapahit yang terkenal dengan sumpah palapanya menyambut di depan gerbang masuk dengan latar belakang tulisan Madakaripura. Konon katanya Patih Gajah Mada menghabiskan akhir hayatnya dengan bersemedi di goa yang berada di air terjun utamanya. Nama Madakaripura sendiri berasal dari tiga rangkaian kata. Mada diambil dari nama Gajah Mada, Kari bermakna peninggalan, sementara Pura berarti tempat semedi.

Masih ada perjalanan sekitar 1 km lagi sampai air terjun terlihat atau sekitar setengah jam. Sepanjang jalan kami ditemani tebing-tebing yang tinggi dengan pepohonan hijau yang tumbuh di dindingnya. Rasa penasaran kami semakin membesar karena tak terdengar suara air terjun meskipun kami sudah berjalan lumayan jauh, hanya terlihat sungai mengalir saja sepanjang jalan. Lalu sampailah kami di dekat tebing yang tinggi selepas jembatan, orang-orang di sini mulai memakai jas hujan. Kami pun bergegas memakainya, ada juga yang memutuskan untuk tidak memakai jas hujan karena ingin basah-basahan.

Dan selepas tebing itulah apa yang dimaksud keindahan itu muncul…….

Air terjun “abadi” Madakaripura,  The Greatest Waterfall In Java.

Yups……disebut air terjun abadi karena airnya selalu melimpah meskipun saat kemarau. Yang menarik dari Madakaripura adalah air terjunnya banyak disepanjang jalan saat kita menyusuri sungainya.  Rasanya seperti main di sungai dengan kondisi hujan, seger banget pokoknya. Spot-spot foto dengan baground yang menakjubkan tentu tak bisa kami lewatkan. Tapi kalian tetap perlu hati-hati ya karena bebatuan di sini agak licin (sangat di sarankan memakai sandal gunung biar tidak terpeleset).

Kalau di lihat ke atas, kumpulan air terjun di sini membentuk seperti kelambu dengan panorama airnya yang jatuh melewati tebing dengan tumbuhan-tumbuhan hijau. Sangat cantik karena tidak semua air terjun memiliki pemandangan seperti ini (agak-agak mirip dengan air terjun tumpak sewu di Lumajang, tapi Madakaripura memiliki air terjun utama di ujung jalan dengan kolam besar di bawahnya). Gemercik air terjun ditambah perjalanan menyusuri sungai membuat sebagian dari kami terpancing untuk melepas jas hujan karena memang paling seru menikmati Madakaripura itu tanpa menggunakan jas hujan

“Eman-eman rek lhak gak teles-telesan, penak iki gawe dolanan banyu”

“Iyo iki, ayo di copot ae jas udane, mengko klambine salin nang duwur”

Sekitar 1 jam an kami menikmati kawasan ini, mulai dari berenang-renang santai, bermain di bawah guyuran air terjun, hingga berfoto-foto cantik. Setelah puas bersenang-senang, kami kembali ke warung makan tempat kami menitipkan tas tadi. Tak terasa hujan mulai turun dan rindu mulai datang (apasihhhh hahaha). Menunggu hujan agak reda, kami menyantap gorengan-gorengan yang sudah siap di atas meja sambil menanti mie goreng kami matang. Perpaduan yang sangat pas sekali di saat hujan seperti ini, mie goreng + nasi  ditambah kopi sebagai minumannya, maknyuuusssss banget lah.

Uenak tenan mie gorengnyaaaaa

Selepas menunaikan sholat dhuhur kami bergegas pulang ke Blitar. Kali ini kami memilih lewat tol Leces-Singosari karena takut macet kalau perjalanan siang hari seperti ini. Sesampainya di Malang kami mampir sejenak di rumah Mbak Alief Pradita, kebetulan dia tidak bisa ikut trip kali ini karena ada acara keluarga. Sudah seperti tradisi buat traveller653 kalau sedang main ke suatu daerah, kita biasakan mampir ke rumah salah satu anggota yang kebetulanb rumahnya masih dalam 1 jalur perjalanan, tujuannya tentu untuk mempererat tali silaturahmi. Terima kasih banyak buat sambutan yang hangat dan suguhan yang luar biasa dari Mbak Alief sekeluarga, mohon maaf kalau makanannya kami habiskan hehe.

Terima kasih Mbak Dita dan keluarga ^_^

Terima kasih Probolinggo telah memberikan kesan yang begitu menyenangkan buat kami selama 2 hari.  Ayo buat kalian yang belum pernah main ke sini, segera agendakan. Dijamin kalian gak akan rugi kok menghabiskan beberapa hari untuk wisata ke sini karena di sini tersedia wisata laut, gunung, air terjun dan romantic place sekaligus lho.

Yang pengin Tanya-tanya ittenary lengkap sama perkiraan budget kalau main ke Probolinggo, atau pengin Tanya-tanya destinasi wisata seru lainnya monggo bisa DM mimin di IG @Traveller653 ^_^

Leave a Reply