Menyapa Ikan-Ikan Kecil di Gili Ketapang

Tak terasa tahun 2020 sudah mau datang menyambut saat kami berlima berkumpul di salah satu ruangan kantor. Bisa dibilang tahun 2019 ini kami tidak terlalu produktif traveling karena kebanyakan agenda kami adalah “buwuh”alias kondangan (mulai dari Salatiga, Solo, Bojonegoro, hingga Malang semuanya bukan murni traveling tapi kondangan).

“Rek…..kapan dolane iki? Mosok setahun dolan isine buwuh tok”,  kata Prisca.

“Iyo, aku lagi pengen renang nang laut iki, ayo agendakan”, jawab Rizqi

Berawal dari percakapan ringan di sore hari itulah kami memutuskan untuk  mengagendakan traveling di akhir tahun 2019. Tanggal yang kami pilih adalah 21 Desember atau sebelum libur natal dimulai. Saat itu ada 2 tempat wisata yang menjadi pembahasan kami yaitu Snorkling di Probolinggo atau Rafting di Kasembon (intinya sama-sama cari tempat wisata yang bisa bermain air tapi bukan di kolam renang hehehe). Setelah melakukan berbagai pertimbangan dan pembahasan layaknya rapat DPR, akhirnya kami putuskan untuk ke Probolinggo sebagai destinasi akhir tahun kami. Pertimbangan yang pertama karena kami berlima punya waktu luang sampai hari minggunya, jadi agak nanggung kalau hanya rafting sehari. Lalu yang kedua karena curah hujan masih sedikit saat itu sehingga lebih asyik kalau bermain-main di laut (kalau rafting paling enak pas musim hujan biar air sungainya banyak).

Selesai pembahasan dan penentuan tujuan, kami buat ittenarynya lalu membagikannya ke teman-teman traveller653 yang lain. Lumayan banyak yang berminat untuk ikut, total ada 17 orang (termasuk 2 orang kepala seksi di kantor kami juga bergabung karena penasaran dengan keseruan kami saat traveling). Seperti biasa hal pertama yang kami lakukan adalah menyiapkan mobil dan “sopirnya”. Sekarang tiap kali traveling paling tidak kami harus menyiapkan 3 mobil karena anggota kami yang semakin banyak (untungnya sekarang banyak yang sudah bisa “nyetir” mobil, jadi semakin banyak pilihan sopirnya hahaha).

Perjalanan malam tetap menjadi pilihan kami seperti traveling-traveling sebelumnya. Berangkat dari kantor pukul 21.00, kami memilih rute jalan bawah menuju Probolinggo (maksudnya tidak lewat tol). Oh iya, awalnya kami tidak punya tujuan tempat menginap karena rencana awal kami akan bermalam di SPBU atau masjid di Probolinggo sana. Tapi karena kebaikan teman di Probolinggo, kami diberikan ijin menginap di salah satu rumah dinas dia yang sedang kosong, lumayan lah 2 hari ada basecamp buat merebahkan badan dan bercengkrama bersama (inilah kenapa kami tidak pernah takut traveling ke penjuru Indonesia, karena kantor vertikal instansi kami tersebar hampir di seluruh kabupaten di Indonesia sehingga tidak perlu bingung untuk mencari tempat “singgah”).

Jam menunjukkan pukul 01.15 dinihari saat kami sampai di tempat menginap. Letaknya cukup dekat dengan Masjid Agung dan alun-alun Kota Probolinggo, paling sekitar 5 menit jalan kaki. Kasur dan guling empuk? Oh jangan harap, kami ini semi backpacker, bisa tidur dimana saja, seringnya sih di dalam mobil saat traveling (tapi juga tidak ngenes-ngenes banget kok hahaha).

Kumandang adzan shubuh membangunkan kami dari istirahat malam yang hanya sebentar ini. Masjid Agung Kota Probolinggo menjadi tujuan kami untuk menunaikan ibadah. Dan perjalanan kami mengelilingi Kota probolinggo pun dimulai hari ini, sebuah kota yang bisa dibilang merupakan kota pelabuhan dengan hawa panasnya yang khas karena berada di dekat laut.

Isi tenaga dulu biar kuat berenang sama ikan

Rawon di sebelah utara alun-alun menjadi pemasok tenaga kami pagi ini. Tujuan pertama tempat wisata yang kami tuju adalah Gili Ketapang, sebuah pulau berpenduduk sekitar 700 KK di Selat Madura yang konon memiliki biota laut yang cukup cantik. Oh iya, untuk menuju ke Gili Ketapang kita dapat menyeberang melalui Pelabuhan Tanjung Tembaga yang berjarak sekitar 3 km dari alun-alun. Harga tiket masuk pelabuhan sebesar Rp 2.000 tiap orang dan biaya parkir untuk 1 mobil adalah Rp 10.000.

Ada banyak travel wisata yang dapat kita gunakan untuk mengeksplore pulau ini, tarifnya yaitu Rp 90.000 per orang (di sana ada seperti paguyubannya sehingga harga paket wisata antar travel relatif sama). Kalau ingin tambah drone, videografi plus editingnya anda dapat memilih paketan seharga Rp 150.000 per orang dengan jumlah minimal 10 orang (di bawah itu harga menyesuaikan). Dapat fasilitas apa saja dengan harga segitu? Buanyaaakkkkk banget dan dijamin tidak bakal kecewa kok, mulai dari tiket kapal PP, alat snorkeling 1 set, pelampung, foto underwater dengan menggunakan action camera, guide yang ramah, asuransi, serta free makan siang dengan lauk ikan bakar sambil beristirahat di gazebo yang berada di basecamp mereka. Tidak begitu mahal kan dengan semua fasilitas itu.

Sekitar pukul 07.30 kami mulai menyeberang menuju Pulau Gili Ketapang dengan durasi perjalanan sekitar 45 menit. Kesejukan angin laut ditambah suara gemercik ombak air laut saat kapal melintas membuat kami menikmati penyeberangan ini dengan lamunan kami masing-masing, sesekali kami bersenda gurau dan tak lupa mengambil beberapa jepretan untuk mengabadikan momen-momen ini.  Setelah menaruh barang bawaan di basecamp KA Snorkling selaku agen wisata kami, kami bergegas menyiapkan diri untuk snorkeling.

Di pesisir pantai telah tersedia perahu untuk mengangkut kami menuju ke spot-spot snorkeling di Gili Ketapang. Awak-awak kru dari KA Snorkling telah siap dengan semua peralatan keamanan dan kamera underwaternya. Sesampainya di spot yang diinginkan, satu per satu anggota traveller653 turun dari perahu untuk menikmati biota bawah laut Selat Madura.  Buat kalian yang tidak bisa berenang, jangan khawatir kalian tidak mendapatkan foto underwater karena kru kru KA Snorkling telah siap sedia di bawah untuk membantu kita mendapatkan foto yang bagus di bawah laut.

Cuaca terik tidak menghalangi kami untuk bersenang-senang di selat ini. Kegiatan yang paling seru kalau ramai-ramai seperti ini adalah membuat foto melingkar tanpa bantuan ban, sulit-sulit gampanglah biar fotonya bisa bulat. Hampir 1,5 jam kita berenang-renang bersama ikan-ikan kecil di sini, kalau pas beruntung kita bisa melihat segerombolan ikan sedang berkumpul seperti mau rapat. Apalagi saat salah seorang kru memberi makan ikan di dekat kita, langsung ikan-ikan itu berbondong-bondong mendekati kita. Yang mungkin agak disesali dari tempat ini adalah banyaknya bulu babi karena selain dapat membuat badan kita nyeri kalau tertusuk durinya, bulu babi juga sebagai pertanda kalau terumbu karang di sana mulai rusak. Tak bisa dipungkiri resiko utama laut yang dijadikan tempat wisata snorkeling adalah rusaknya terumbu karang mereka.

Rasa lapar mulai menggrogoti perut kami saat kami selesai snorkeling. Ikan bakar dengan sambal merah meronanya sudah menunggu kami di basecamp awal tadi. Kami pun langsung menyantapnya dengan lahap sambil menunggu antrian kamar mandi untuk berganti pakaian. Tak lupa suguhan khas saat sedang di pantai berupa es kelapa muda menjadi minuman penyegar tenggorokan kami. Nikmat sekali momen-momen seperti ini ^_^

Terima kasih banyak buat KA Snorkling (Instagram: wisatagiliketapang) atas semua keseruannya  dan  telah menjadi teman perjalanan yang menyenangkan selama kami di Gili Ketapang. Pelayanannya sangat memuaskan dan rekomended lah buat kalian yang bingung memilih agen wisata saat ke Gili Ketapang.

2 Replies to “Menyapa Ikan-Ikan Kecil di Gili Ketapang”

  1. ga ngenes-ngenes banget tapiiii ngeneeeeezzzztt aja? 😂😂😂

    1. traveller653 says: Reply

      hahaha yang penting bahagia

Leave a Reply