Mekkah Al Mukaromah – Di Sinilah Tujuan Dari Semua Perjalanan itu

Hari Kelima – Masjidil Haram

Selepas Sholat Dhuhur saya dan istri bergegas kembali ke hotel. Sudah sejak kemarin malam kami mengemasi barang-barang kami. Koper yang tadi pagi kami letakkan di depan kamar sudah tidak ada, pasti sudah diangkut karyawan hotel untuk dimasukkan ke dalam bis. Hari kelima ini adalah hari terakhir kami di Madinah. Rasanya berat untuk meninggalkan kota ini, kota yang menurut kami sangat enak dan nyaman untuk ditinggali. Tapi kami tahu, tujuan utama kami bukanlah kota ini. Mau tidak mau kami harus melanjutkan perjalanan, menuju tempat di mana kiblat umat muslim ketika beribadah berada.

Agenda pertama kami adalah mengambil Miqat Umroh ke-1 di Masjid Bir Ali yang terletak di batas Kota Madinah. Miqat artinya batas bagi dimulainya ibadah haji/umroh, artinya larangan-larangan selama umroh sudah mulai berlaku. Pakaian yang kami kenakan sudah berupa pakaian ihram. Di sana kami mengerjakan Sholat Sunah Ihram. Enam jam perjalanan lama yang kami tempuh untuk sampai ke Masjidil Haram. Sekitar jam 8 malam waktu setempat kami sampai di Hotel Hilton Suites Mekkah (hotel kami berjarak sekitar 250 m dari Masjidil Haram).

Miqat di Masjid Bir Ali

Setelah cek in, kami makan malam dulu untuk mengisi perut yang kosong dan supaya kuat saat menjalankan Thawaf. Selesai makan kami istirahat sebentar di kamar sekitar 1 jam dan berkumpul lagi di lobby jam 21.00 untuk berjalan bersama-sama menuju Masjidil Haram. Rasa penasaran dan takut bergantian datang, penasaran karena ingin melihat Kabah dari dekat dan takut kalau saya tidak diijinkan untuk melihat Kabah (sudah sering terdengar orang yang ke sini tapi tidak bisa melihat Kabah karena suatu hal).

Begitu cantik pemandangan di pelataran Masjid yang dipenuhi lampu dengan latar belakang hotel-hotel yang menjulang tinggi. Pandangan saya dan istri langsung tertuju ke Zam-Zam Tower yang ikonik banget buat dijadikan background foto bersama (tahan….tahan…..fotonya nanti saja sesudah umroh hehe). Masuk ke dalam masjid kami mengambil tempat yang agak kosong untuk menjalankan sholat isya berjamaah sebelum melakukan thawaf. Suasana di sana masih sangat ramai, bahkan bisa dibilang tak pernah sepi. Selesai sholat, Ustad Baihaqi membagikan earphone (alat bantu dengar) yang akan membantu jamaah ketika thawaf dan sa’i.  Inilah salah satu fasilitas yang membuat saya dan istri puas dengan Shafira, dengan earphone ini kita tinggal mendengarkan dan menirukan bacaan dari Muthawif sehingga kita tidak bingung saat menjalankan ibadah umroh.

Masyaallah………maha suci Allah, inikah Ka’bah yang selama ini menjadi kiblat kami? Antara percaya dan tak percaya kami diijinkan melihatnya dari jarak sedekat ini. Kami mulai thawaf mengelilingi Ka’bah sambil mengikuti bacaan dari Ustad Baihaqi. Kami tidak langsung memotong arus putaran untuk mendekat ke Ka’bah karena akan mengganggu jamaah yang lain. Pelan-pelan rombongan kami mulai merangsek mendekat. Orang Indonesia termasuk berperawakan kecil kalau dibandingkan jamaah dari negara lain, jadi kami memang harus banyak-banyak bersabar saat berdesak-desakkan ketika thawaf.

Selesai menjalankan thawaf, kami berjalan ke arah bukit safa dan marwah untuk menjalankan Sa’i. Jangan dibayangkan kita akan bertemu dengan 2 buah bukit seperti bukit-bukit di Indonesia ya, bukit safa dan marwah sudah dibangun menjadi sebuah bangunan yang menyatu dengan Masjidil Haram sehingga membuat jamaah nyaman dalam menjalankan ibadah. Saat berada di antara 2 bukit ini kita pasti akan teringat kisah perjuangan seorang Ibu yang tanpa kenal lelah bolak-balik naik turun kedua bukit itu untuk mencarikan air minum kepada anaknya yang masih bayi (mangkanya muliakan ibu kalian selagi kita masih diberi kesempatan bertemu dengan beliau).

Lampu hijau di anara Bukit Safa dan Marwah, tanda kita harus lari-lari kecil

Rangkaian ibadah umroh ditutup dengan Tahallul, yaitu memotong rambut minimal 3 helai setelah melakukan Sa’i. Selesai Tahallul berarti semua pantangan saat umroh sudah tidak berlaku lagi, kita sudah boleh memakai pakaian berjahit, memakai wangi-wangian, dll. Jam menunjukkan sekitar pukul 01.30 waktu setempat saat kami selesai menjalankan serangkaian ibadah umroh (jangan bayangkan suasananya sudah sepi ya, di sini ramai terus orang beribadah). Kami bergegas menuju hotel untuk istirahat.

Hari Keenam – Perjuangan mencapai Hijr Ismail

Agenda hari ini adalah ibadah mandiri, tapi rasanya “eman-eman” kalau seharian hanya dihabiskan bersantai-santai di hotel (meskipun kamar hotel terasa sangat nyaman). Hal yang saya lakukan adalah thawaf sunnah sambil memuaskan batin melihat Ka’bah dari dekat. Selain itu ada hal lain yang ingin saya tuju, yaitu berdoa dan sholat di Hijr Ismail. Semua bagian dari Masjidil Haram merupakan tempat yang mustajab untuk berdoa, tapi ada tempat-tempat yang diistimewakan untuk berdoa, salah satunya Hijr Ismail.

Selesai thawaf sunnah, saya antri buat masuk Hijr Ismail. Dibandingkan dengan jumlah jamaah yang datang setiap hari, luas Hijrl Ismail tentu sangat kecil. Butuh perjuangan dan tentunya ijin dari Allah untuk masuk ke sana. Kita harus berdesak-desakkan melawan orang-orang berperakan besar (jangan sampai emosi ya di sini, soalnya pembalasan dari Allah cepat sekali di sini). Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk sholat sunnah dan menyentuh Ka’bah di dalam sini. Rasanya kalau dibolehkan ingin belama-lama di sini buat memohon ampunan kepada Allah.

Jujur lebih sulit keluar dari Hijr Ismail dari pada perjuangan saat masuk (lebih ganas dorongan orang-orang yang mau masuk hehe). Setelah keluar tujuan berikutnya adalah berdoa di dekat Maqam Ibrahim. Ini merupakan batu pijakan Nabi Ibrahim saat memperbaiki Ka’bah. Antrian di sini tidak begitu banyak sehingga bisa lebih tenang dalam berdoa tanpa harus berdesak-desakkan.

Masih ada 2 tujuan utama saya hari ini yaitu memegang Hajar Aswad dan berdoa di Multazam. Hajar Aswad adalah batu yang berasal dari surga, dulu warnanya putih tapi sekarang jadi hitam karena dosa manusia di bumi. Multazam merupakan tempat atau jarak antara sudut Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Untuk mencapai Hajar Aswad lah yang paling sulit. Buat orang Indonesia, saran saya pilihlah waktu antara jam 23.00-02.00 karena pada jam segitu “persaingannya” akan lebih ringan, tapi tentunya harus banyak-banyak bersabar dan berdoa minta ijin Allah SWT(sama jangan lupa harus punya fisik yang prima ya buat berdesak-desakkan).

Kalau teman-teman ingin mengisi ibadah mandirinya dengan melaksanakan umroh lagi, teman-teman bisa naik bus umum yang tersedia di depan Masjidil Haram menuju Masjid Tan’im untuk mengambil Miqat. Harganya murah, sekali jalan cukup 3 ribu riyal.

Hari Ketujuh – Ziarah Kota Mekkah

Jabal Tsur

Agenda hari ini adalah berkeliling Kota Mekkah dan menjalankan Umroh ke 2. Umroh ke 2 ini bisa kita niatkan untuk orang lain, bisa orang yang sudah meninggal atau orang tua yang karena keterbatasannya kemungkinan besar tidak bisa datang ke sini untuk menjalankan ibadah umroh.

Kami sudah berkumpul di lobby pukul 06.30 atau selesai sarapan. Perlengkapan yang kami bawa adalah baju Ihram karena kami nanti akan mengambil Miqat di Masjid Tan’im selesai berkeliling Kota Mekkah.

Tujuan pertama kami adalah Jabal Tsur yang mana di atasnya terdapat sebuah gua bernama Gua Tsur, tempat yang menjadi saksi perjuangan Nabi Muhammad SAW dan sahabat Abu Bakar dalam memperjuangkan Islam. Di sini pernah menjadi persembunyian Nabi ketika di kejar-kejar kaum Quraisy dalam perjalanan hijrah ke Madinah. Bahkan tempat ini diabadikan Allah SWT dalam firmannya di surat At-Taubah ayat 40.

Perjalanan kami lanjutkan menuju Padang Arafah dan Jabal Rahmah. Selama perjalanan Ustad Asmuri tak pernah berhenti bercerita tentang sejarah dan perkembangan Kota Mekkah. Padang Arafah merupakan daerah tidak berpenghuni karena daerah ini hanya digunakan sekali dalam setahun, yaitu saat musim haji. Salah satu syarat sah nya haji adalah wukuf di Padang Arafah. Kondisi jalan menuju di sana cukup lebar (6 jalur), tapi saat musim haji bisa sampai berjam-jam hanya untuk antri keluar dari sana.

Di Padang Arafah terdapat bukit yang bernama Jabal Rahmah. Bukit ini merupakan tempat pertama pertemuan Nabi Adam dan istrinya (Siti Hawa) setelah diturunkan dari surga. Padang Arafah juga menjadi saksi ketika wahyu terakhir diturunkan kepada Nabis Muhammad SAW saat beliau sedang wukuf.

Di sini banyak beredar mitos (terutama orang Indonesia sih) yaitu dengan mengusap tugu, menuliskan namanya di sana atau menempelkan foto maka akan dikabulkan doanya, padahal hal itu tidk pernah di lakukan oleh Nabi Muhammad SAW.  Yang menarik juga di Padang Arafah terdapat sebuah rumah sakit yang hanya berfungsi sekali dalam setahun, jadi kalau tidak sedang musim haji rumah sakit ini tutup.

Jabal Rahmah

Puas berfoto-foto di sana, kami melanjutkan perjalanan menuju Muzdalifah, Mina, Jabal Nur dan berakhir di Masjid Tan’im.  Di masjid ini kami mengambil Miqat dan melaksanakan sholat sunnah ihram. Sebelum melaksanakan umroh ke 2, kami mampir dulu di hotel untuk makan siang. Rangkaian acara hari ini selesai tepat saat sholat ashar berkumandang. Setelah itu acara bebas.

Siap memandu anda hahaha

Hari Kedelapan – Mengunjungi tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Menikmati Kuliner di sekitar Masjidil Haram

Agenda kami di hari kedelapan ini sebenarnya bebas atau ibadah mandiri. Tapi Ustad Baihaqi dan Ustad Asmuri berencana mengajak kami untuk berkeliling Masjidil Haram, salah satunya mengunjungi rumah yang menjadi tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Rumah itu sekarang dijadikan perpustakan oleh pemerintah Arab Saudi. Latar belakang perpustakaan ini adalah Jabal Nur, yang mana terdapat Gua Hira di atasnya, tempat pertama kali Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu.

Belajar ngobrol bahasa Arab

Tidak semua orang boleh masuk ke perpustakaan itu, harus membawa surat ijin kunjungan. Itu yang membuat kami hanya bisa foto-foto di luar. Mengetahui bahwa kami berasal dari Indonesia, penjaga perpustakan itu kemudian memperbolehkan 1 orang dari kami untuk masuk meskipun kami tidak membawa surat ijin kunjungan. Ustad Baihaqi lah yang terpilih buat mewakili kami. Selesai melihat-lihat perpustakaan, beliau memberikan sedikit tausiah kepadah kami tentang pentingnya doa bagi kehidupan.

Selesai mendengarkan tausiah, acara dilanjutkan dengan kegiatan mandiri. Saya dan istri memilih keliling sebentar di tempat belanja yang berada di sekitar halaman Masjidil Haram. Oh iya, beberapa hotel-hotel di sini juga menyediakan Shopping Mall di beberapa lantainya, salah satunya Jabal Omar. Saat masuk ke sana tujuan pertama kami adalah Supermarket Bin Dawood. Apa yang kami cari? Pop Mie cita rasa lokal hahaha. Berada di luar negeri selama beberapa hari tentu kami kangen dengan rasa makanan lokal. Makanan timur tengah sangat kental dengan rasa rempah-rempahnya. Seenak-enaknya masakan timur tengah, tetap ada rasa bosan juga buat lidah kami.

Kalau kalian ingin mencari Albaik yang menjadi buah bibir di kalangan orang-orang Indonesia saat umroh atau haji, kalian bisa mendapatkannya di sini. Harganya sih standar skitar 15 riyal untuk 1 porsi ayam.

Hari Kesembilan – Berpisah dengan Ka’bah untuk kembali ke Tanah Air

Tak terasa sudah 9 hari kami berada di Negeri Arab, tak terasa juga waktu untuk pulang telah tiba. Untuk jamaah umroh maupun haji, di wajibkan untuk melaksanakan Thawaf Wada’, yaitu thawaf perpisahan. Kami berkumpul di lobby pukul 02.00 dinihari. Pakaian yang digunakan bebas, tidak perlu memakai pakaian ihram dan tidak perlu menjalankan sholat sunnah thawaf. Kami melaksanakan sholat tahajud dan sholat hajad bersama-sama dipimpin oleh Ustad Baihaqi sebelum melakukan thawaf wada’. Suasana di sekitar Ka’bah masih ramai seperti biasanya, meskipun tidak seramai saat siang hari.

Sedih? Pastinya. Waktu terasa berjalan cepat di sini. Bisa beribadah dengan memandang Ka’bah langsung setiap hari tentu merupakan momen yang sulit untuk “dilepaskan” begitu saja. Selesai thawaf saya dan istri memilih duduk-duduk di pelataran Ka’bah sambil menunggu adzan shubuh berkumandang, menikmati momen-momen terakhir di sini. Tidak ada kamera, tidak ada keinginan berfoto-foto lagi, hanya ingin memandang Ka’bah.

Pagi itu selesai sarapan kami sudah harus bergegas menuju Jeddah karena masih ada 1 agenda lagi yang di siapkan pihak Shafira untuk kami yaitu City Tour Jeddah. Pesawat yang mengangkut kami kembali ke tanah air terbang pukul 18.40 (usahakan 6 jam sebelumnya sudah berada di bandara karena kita harus mengikuti proses imigrasi), jadi masih ada waktu setengah hari untuk jalan-jalan di Jeddah.

Tujuan pertama kami adalah Al Amoudi Museum. Di sini kita diajak kembali melihat kehidupan Arab Saudi di masa lalu. Dari luar, bangunan ini terlihat seperti sebuah benteng berwarna coklat. Banyak spot-spot unik yang dapat kita jadikan tempat befoto bersama keluarga. Saya dan istri memilih jalan-jalan dan hanya sesekali berfoto bersama saat berada di sini (mau mengambil foto setiap spot tapi yang antri lumayan banyak juga).

Selesai dari museum, perjalanan kami berlanjut ke toko oleh-oleh Ali Murah. Yups….namanya memang ada tulisan “murah” nya, mungkin untuk menarik jamaah Indonesia. Kalau boleh jujur harga di sini tidak murah-murah banget, masih lebih murah saat kami berbelanja di Madinah dengan kualitas barang yang sama. Banyak makanan ala Indonesia di sekitar sini, seperti bakso yang jadi inceran teman-teman rombongan. Buat teman-teman yang ingin membawakan Albaik buat keluarga di rumah, kalian bisa membelinya di sini karena tak jauh dari toko Ali Murah terdapat outlet dari Albaik.

Yang paling saya ingat di sini adalah makan siang yang disediakan pihak Shafira di sini, yaitu prasmanan di Rumah Makan Wong Solo (letaknya di sebelah Toko Ali Murah). Menunya? Lalapan, ayam goreng, dan sop cita rasa Indonesia.

“Iki ayame padahal cuman digoreng, tapi kok rasane uenak yo cin”, canda saya kepada istri.

“Iyo mas, opo garai kita wis suwi gak maem masakan Indonesia yo”.

Ternyata istri juga punya pemikiran sama dengan saya, memang lidah kami lidah orang Indonesia (lebih tepatnya lidah orang jawa hehe). Dan kami pun tak sungkan lagi buat nambah makan :D.

************************

Itulah sedikit pengalaman umroh pertama kami bersama Shafira, secara keseluruhan sangat memuaskan pelayanan dari travel yang satu ini. Buat teman-teman yang sudah mempunyai kecukupan materi untuk pergi umroh/haji, segeralah berangkat dan jangan tunda-tunda lagi. Apa yang kalian keluarkan untuk beribadah di jalan Allah baik berupa materi ataupun yang lainnya, pasti akan tergantikan berkali-kali lipat. Dan buat teman-teman yang sudah sangat ingin bertamu ke tanah suci tapi belum diberikan kecukupan materi, semoga dilancarkan rezekinya supaya bisa segera pergi ke sini, aaamminnnnn.

Leave a Reply