Kota Yang Indah itu Bernama Madinah

Tak pernah terbayangkan kunjungan pertama kami sebagai suami istri ke luar negeri adalah Negara Arab. Dulu kami sempat berpikiran untuk melancong ke Singapura, Malaysia, atau Thailand sebagai destinasi wisata kami, menikmati panorama alam dan trademark dari negeri tetangga tersebut sebagai pasangan muda. Kami tidak menyangka dalam usia pernikahan yang belum mencapai angka 3 tahun, kami sudah diijinkan untuk bertamu di tempat suci umat islam, tempat dimana islam tumbuh berkembang. Suatu pengalaman yang luar biasa, bahkan sangat luar biasa dalam perjalanan hidup kami. Bisa dibilang tempat ini lah yang akan selalu ingin kami kunjungi jika diberikan kesempatan lagi.

Jadwal Perjalanan Umroh Shafira

Hari Pertama – Madinah Al-Munawarah, Kota yang Bercahaya

Perjalanan ibadah sekaligus wisata kami dimulai dengan 10 jam perjalanan dari Surabaya. Kami mendarat sekitar pukul 15.10 waktu Madinah, atau lebih lambat 4 jam dari waktu Surabaya. Turun dari pesawat kami harus melewati proses imigrasi dimana petugas imigrasi mencocokkan paspor yang kami bawa dengan wajah kami. Antriannya bisa 30 menit sampai 1 jam karena setiap hari orang yang masuk ke Madinah sangat banyak, tentunya dari berbagai negara tidak hanya Indonesia. Tas dan koper kami sudah dibawakan oleh potter yang disewa pihak Shafira. Oh iya, buat kalian yang berencana ke luar negeri, jangan sampai kalian kehilangan paspor kalian ya, simpan baik-baik karena pengurusan kehilangan paspor di beberapa negara sangat rumit dan ketat.

Di pintu keluar bandara, rombongan kami  sudah ditunggu Ustad Asmuri. Beliau adalah orang  Indonesia yang sudah lama menetap di Mekkah (saat saya tanya, beliau sudah di Mekkah sekitar 16 tahun). Jadi selama Ibadah umroh ini, kami ditemani 2 orang Muthawif, 1 orang yaitu Ustad Baihaqi yang menemani kami sejak berangkat dari Indonesia sampai kembali lagi, sementara 1 orang lagi adalah orang Indonesia yang menetap di sana (manteb lah pokoknya pelayanannya Shafira, kalau di aplikasi belanja online namanya recomended seller)

Kemudian kami diantar menuju parkiran yang mana sudah tersedia bis dengan tempat duduk 2-2 yang sudah ada tanda pengenal Shafira di kaca depannya untuk mengantar kami ke hotel. Hotel yang kami tuju adalah Al Madinah Harmony Hotel, kalau di maps sekitar 300 m dari Masjid Nabawi. Perjalanan dari bandara menuju hotel memerlukan waktu sekitar 30 menit. Senja sore hari dengan latar belakang pasir khas negeri timur tengah menemani perjalanan kami.

Kunci kamar langsung dibagikan setelah kami sampai di hotel. Kami tak perlu susah payah mengangkut koper kami karena pihak hotel sudah menyediakan layanan untuk mengangkutnya (tinggal ditunggu di kamar dan tiba-tiba koper kami sudah ada di depan kamar hehe).

ruang makan khusus untuk tamu shafira

Makan malam sudah tersedia di restoran hotel. Ada ruangan sendiri khusus untuk jamaah Shafira, jadi tak perlu bercampur dengan rombongan lain. Menu yang disediakan sebenarnya menu Indonesia, tapi rasanya khas timur tengah (banyak rempah-rempahnya). Enak?? Hari-hari awal masih enak, tapi lama-lama bosan juga hehe. Tidak ada agenda malam ini, sama pihak tour disarankan untuk istarahat dulu supaya bisa fit dalam menjalankan ibadah-ibadah pada hari berikutnya.

Hari Kedua – Masjid Nabawi

Setelah sarapan dengan menu Indonesia rasa timur tengah (tenang saja, masih terasa enak kok), kami serombongan berkumpul di lobby hotel. Agenda pertama kami adalah berkunjung di Raudhah. Raudhah merupakan taman dari surga, letaknya antara mibar dan rumah Nabi Muhammad SAW. Keutamaan Raudhah bisa anda searching sendiri di google, banyak banget lah, mangkanya orang-orang berlomba-lomba buat berdoa dan beribadah di Raudhah.

Banyak burung merpati di depan Masjid Nabawi

Tak sampai 5 menit jalan kaki kami sudah berada dipelataran masjid. Udara pagi yang segar ditemani banyak burung merpati yang bertebangan menambah pesona tersendiri dari tempat suci ini. Gate yang kami tuju adalah gate 21 (ada banyak pintu masuk Masjid Nabawi, kalau kalian ke sana lihat bagian atas ada nomor gate yang harus kalian hapalkan supaya tidak bingung saat keluar). Dipelataran ini jamaah pria dan wanita berpisah karena ada gate sendiri untuk wanita (kalau mau ke Raudhah, ibu-ibu silahkan masuk gate 25).

Tiang-tiang Masjid Nabawi yang berlapis emas

Sebelum masuk, Ustad Asmuri menceritakan tentang kondisi Masjid Nabawi dahulu hingga semegah dan seluas sekarang ini. Antrian sudah sangat membeludak di jalan menuju Raudhah, anda harus menyiapkan fisik untuk berdesak-desakan (dan tentunya berdoa kepada Allah supaya diijinkan beribadah di Raudhah).

Di sekitar sana banyak askar-askar yang bertugas mengatur keluar-masuknya orang. Jadi kalau anda sudah terlalu lama di dalam, kemungkinan besar anda akan diusir oleh askar untuk memberi tempat kepada jamaah yang lain. Keluar dari Raudhah, kalian akan melewati makam Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar As-Shidiq, dan Umar bin Khatab.

Nangis? Ehm…….tanpa saya sadari, air mata menetes. Bayangkan saja kita berada di tempat di mana orang yang sangat dicintai Allah SWT dan orang yang sangat mencintai kaumnya terasa begitu dekat jaraknya dengan kita, yang pasti ini pengalaman sangat luar biasa (tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lah)

Suasana Masjid Nabawi saat senja

Selesai dari Raudhah kami menuju pemakaman Baqi’ yang berada di tenggara Masjid Nabawi. Pemakaman terbesar di dunia ini ditutup sekitar jam 09.00 waktu setempat, maka dari itu kami segera bergegas ke sana (beberapa orang dalam rombongan saya tidak bisa ikut karena masih mengantri di Raudhah). Baru beberapa meter melangkah, kami sudah dihalau untuk keluar soalnya memang sudah waktunya ditutup.

Acara selanjutnya adalah acara bebas (ibadah mandiri). Saya dan istri berkeliling disekitar masjid untuk melihat oleh-oleh dan camilan khas sana sambil menunggu sholat dhuhur. Pedagang di sini kebanyakan mengerti bahasa Indonesia meskipun hanya kata-kata yang lumrah saat jual beli seperti kata “murah”, “mampir dulu” dan mereka juga bisa berhitung pakai bahasa Indonesia. Mungkin karena banyaknya jamaah haji atau umroh yang berasal dari Indonesia makanya mereka bisa fasih gitu.

Hari Ketiga – City Tour Madinah

Jabal Uhud

Hari ketiga agenda dari Shafira adalah mengunjungi tempat-tempat bersejarah dalam perkembangan Islam di Madinah. Tujuan pertama kami adalah Masjid Quba. Masjid ini memiliki keistimewaan sendiri karena sesuai hadis barangsiapa berwudlu dari rumah lalu sholat 2 rokaat di Masjid Quba, maka kita akan mendapat pahala seperti orang yang menjalankan ibadah umroh. Oleh karena itu kami dihimbau untuk mengambil wudlu dari hotel lalu mengerjakan sholat tahiyatul masjid dan sholat dhuha di Masjid Quba. Oh iya, kenapa Madinah begitu istimewa buat kaum muslimin itu karena janji Allah yang akan melipat gandakan pahala jika kita beribadah atau berbuat baik di sana. Hmm……sangat menggoda sekali kan janji Allah SWT.

Selesai dari sana kami menuju kebun qurma. Di sana ada toko oleh-oleh yang memiliki kerbun qurma dibelakangnya (sistem tokonya seperti toko oleh-oleh di Indonesia, ada fee sendiri buat agen tour and travel yang mengajak jamaahnya ke sana). Buat kalian yang ingin belanja oleh-oleh, kalian bisa membeli di sini. Tersedia berbagai jenis qurma, mulai dari qurma muda sampai qurma yang berukuran besar (saran saya sih beli oleh-oleh di sekitar masjid quba, masjid nabawi, atau di jabal uhud karena harganya lebih murah dan lebih enak ditawar).

Puas “berbelanja” (saya dan istri sih gak belanja di sini, hanya foto-foto saja), kami melanjutkan perjalanan ke Jabal Uhud, sebuah bukit yang nanti akan diangkat ke surga. Di sini pernah terjadi peperangan besar antara kaum muslim dan kaum Quraisy. Awalnya kemenangan berada di pihak muslim, tapi karena ada beberapa orang yang melanggar perintah Nabi Muhammad SAW sehingga musuh berhasil mengalahkan mereka dan banyak sahabat-sahabat yg gugur dalam peristiwa ini (silahkan cari sendiri ya kisahnya, banyak kok di google).

Buat kalian yang ingin membeli oleh-oleh seperti tasbih, syajadah, ataupun pernak pernik lainnya, silahkan membeli di sekitar sini karena harganya yang menurut kami lebih murah dibandingkan tempat lain (jangan lupa menawar ya). Saya dan istri membeli karpet syajadah yang harganya 20 riyal (kalau di Indonesia bisa sampai 120 ribu ke atas, cuman ukurannya besar sehingga sulit dibawa pulang hehe).

Sepanjang jalan Ustad Asmuri sibuk bercerita tentang sejarah perkembangan Islam di Madinah seperti bekas parit dalam perang Khandaq (sekarang sudah tertutup jalan raya karena perkembangan kota), lalu melewati Masjid Qiblatain dan Masjid Sab’ah (Masjid Tujuh).

Masjid Tujuh

Masjid Qiblatain memiliki arti 2 arah kiblat. Dahulu arah kiblat umat muslim adalah Baitul Maqdis, lalu turunlah wahyu yang mengubah arah kiblat menjadi Ka’bah. Kejadian tersebut saat Nabi Muhammad SAW sholat di masjid ini sehingga masjid ini terkenal dengan nama Qiblatain. Sementara Masjid Sab’ah atau masjid tujuh dahulu merupakan pos-pos penjagaan ketika terjadi perang Khandaq, lalu berubah menjadi masjid-masjid kecil yang penamaannya sesuai nama sahabat nabi sebagai bentuk penghormatan kepada mereka. Sekarang jumlah masjidnya tidak lagi tujuh karena beberapa masjid digabung supaya lebih besar.

Sebelum sholat dhuhur kami sudah sampai hotel lagi. Acara setelah ini bebas atau ibadah mandiri. Ternyata istri masih penasaran berkeliling kota madinah (lebih tepatnya penasaran dengan mall nya Madinah hehe). Akhirnya besok setelah sarapan (hari keempat) kami memutuskan membeli karcis bus city tour Madinah (namanya Hop On Hop Off).

Bis Hop On Hop Off

Kalian bisa membeli di depan pintu masuk Masjid Nabawi yang lurus dengan gate 21. Harganya 80 riyal untuk karcis yang berlaku 24 jam. Kalian akan diberi headset untuk mendengarkan kisah-kisah Islam di Madinah. Ada 11 bahasa yang disediakan, salah satunya bahasa Indonesia. Jadi kalian tidak perlu khawatir tidak bisa mendengarkan ceritanya.

Hari Keempat – Ibadah Mandiri

Pagi itu kami berkeliling sebentar melihat-lihat Masjid Quba lagi buat beli mainan onta. Lalu saat berhenti di mall ternyata mall nya belum buka. Dengan wajah merengek istri meminta kembali lagi ke sini pas malam habis sholat isya (nurut aja daripada dia jungkir-jungkir hehe).

Hari keempat ini bertepatan dengan hari jumat. Saya penasaran dengan suasana Sholat Jumat di Masjid Nabawi. Kata Ustad Baihaqi, kalau ingin mendapat tempat di shaf depan, maka harus datang 3,5 jam sebelumnya soalnya 2 jam sebelum sholat jumat, masjid sudah sangat penuh. Jadi sebelum masuk, usahakan sudah buang air kecil dulu ya biar shaf depan yang kita dapatkan tidak di isi orang gara-gara kita kebelet pipis.

Oh iya, ada kebiasaan di sini saat sholat shubuh imam membaca ayat sajadah (yaitu ayat yang apabila dibaca di sunnahkan untuk sujud tilawah). Ini kejadian pertama kali saya sholat memakai ayat sajadah, sehingga agak kaget ada “gerakan tambahan” saat sholat (di Indonesia jarang sekali ada yang memakai ayat sajadah saat sholat fardu).

Roti dan qurma setiap sore

Lalu ada lagi momen yang selalu berkesan buat saya, yaitu makan bersama sebelum Sholat Magrib. Jadi tiap hari sudah ada yang menyediakan roti, qurma dan minuman yang tertata rapi, berjejer seperti shaf orang sholat. Rasanya nikmat sekali bisa makan bersama-sama dengan tamu-tamu Allah dari penjuru dunia ^_^

Depan Masjid Nabawi setelah sholat Isya
Terima kasih Pop Mie kau hadir di sini ^_^

Leave a Reply