Mau Durian di Ponorogo? Telaga Ngebel Tempatnya (Menikmati Udara Ponorogo-Pacitan hari ke 3)

Jam menunjukkan pukul tujuh pagi saat kami mulai bangun satu persatu. Selepas sholat subuh kami memang memutuskan untuk tidur kembali karena rasa capek yang masih menyelimuti kami. Semalam kami sampai di rumah Rizki sekitar pukul sepuluh malam.

“Iki lanjut nang Ngebel opo langsung mulih Blitar?”

“Wis usum duren tah nang kono? Aku manut”

“Gak ngerti wis usum opo durung, tapi wis teko Ponorogo mosok gak mampir Ngebel menisan”

“Budhal tok wis”

    Kira-kira seperti itulah percakapan kami pagi itu. Ternyata saat kami bangun, sarapan sudah tersedia di ruang tamu, kami pun disuruh sarapan dulu oleh Ibunya Rizki (duh…..ngrepotin lagi hehe). Selesai sarapan satu persatu dari kami mulai mengantri kamar mandi. Sambil menunggu antriannya tiba, kami mulai membereskan barang-barang kami karena kami berencana setelah dari Ngebel kami langsung balik Blitar.

“Pamitan mari ngene ae, mengko teko Ngebel langsung cus Blitar”

    Pagi itu sudah banyak tamu-tamu yang datang untuk silaturahmi ke rumah orang tua Rizki sehingga kami harus menunggu beberapa saat untuk sekedar berpamitan dan meminta untuk didoakan supaya kami bisa segera menyusul ke Tanah Suci Mekkah.

    Perjalanan dari Ngabar ke Telaga Ngebel memerlukan waktu sekitar 45 menit sampai 1 jam. Kalau Magetan terkenal dengan Telaga Sarangannya, di Ponorogo ada Telaga Ngebel yang tak kalah cantik. Berada di kaki Gunung Wilis, Telaga Ngebel merupakan danau alami yang terkenal dengan legenda naganya bernama Baru Klinting (kalau ingin tahu ceritanya, silahkan cari sendiri di google yaa). Tiket masuk ke Telaga adalah Rp 6.000 untuk orang dewasa. Udara di sini terasa lebih dingin bila dibandingkan dengan Kota Ponorogo, meskipun cuaca lumayan terik saat itu.

     Setelah memarkir mobil, mata kami langsung tertuju ke perahu boat yang berjejer rapi di tepi telaga. Untuk sekali memutar telaga, kalian cukup membayar Rp 40.000, itu pun bisa diisi 5 orang (jadi perorangnya hanya Rp 8.000 rupiah saja). Cipratan-cipratan air karena goyangan dari perahu boat menambah keseruan kami memutari telaga. Meskipun saat turun sebagian dari kami merasa sedikit mual, tapi lumayan seru lah. Selain persewaan perahu, di sini juga terdapat persewaan kuda dan beldi (delman kecil).  Buat kalian yang hobi atau sekedar ingin berfoto keren dengan menaiki kuda, kalian harus mencoba wahana ini, harga sewanya Rp 30.000.

    Selesai “bermain” air, kami mencari warung untuk membeli gorengan dan minuman. Banyak warung-warung berjejer menghadap telaga yang dapat kalian pilih untuk bersantai. Tempatnya cukup rindang dan harga makanan disini dijamin tidak akan menyiksa kantong kalian. Sambil menyantap tempe mendoan dan telur puyuh tepung digoreng, kami bertanya ke ibu-ibu penjaga warung apa sekarang sudah musim durian.

“Ada mas durian, di sebelah sana (sambil menunjuk arah). Tapi sekarang masih mahal, yang ukuran kecil dan rasanya belum begitu enak harganya 60 ribu ke atas mas”

“Kok mahal bu?”

“Iya mas, soalnya belum musimnya. Kalau mau datang lagi sekitar 2-3 bulan lagi,

    Ngebel memang merupakan penghasil durian di Ponorogo. Kalau lagi musim durian, harganya bisa sangat murah. Bahkan pada bulan Maret 2018 kemarin di sini diadakan pesta durian gratis buat para pengunjung. Mangkanya kalian sering-sering buka info tentang Ponorogo ya kalau lagi musim panen durian, lumayan kan kalau bisa makan durian sepuasnya tanpa harus bayar.

Es Dawet dan Melon

    Ponorogo juga terkenal dengan es dawetnya. Yang terkenal berada di daerah Jabung. Di sana berjejer rumah-rumah yang berjualan es dawet.  Kalau kalian melintasi Ponorogo,jangan lupa mampir untuk mengicipi es dawet ya, apalagi kalau cuaca sedang terik seperti saat kami di sana, bisa habis 2 mangkok lah sekali minum.

    Sebelum kami meninggalkan Ponorogo, kami sempat melihat di pinggir jalan ada orang yang sedang memanen buah melon. Kami pun mampir untuk membelinya karena penasaran apa bedanya melon Ponorogo dengan melon di daerah lain sekalian untuk oleh-oleh keluarga di rumah. Kita bisa dapat harga yang lebih murah bila dibandingkan harga di pedagang buah kalau kalian langsung beli ke petaninya. Tapi ingat ya, kalau nawar jangan sadis-sadis, kasihan petani melonnya ^_^.

***************

    Sebagai penutup perjalanan kami di Ponorogo-Pacitan, ada qoute tentang sahabat dari tokoh idola masa kecil penulis sampai masa kini, Patrick si Bintang Laut.

“Aku memang hanya binatang bodoh yang banyak kekurangan, tapi aku punya 1 sahabat yang menutupi semua kekuranganku !!”

 

 

 

One Reply to “Mau Durian di Ponorogo? Telaga Ngebel Tempatnya (Menikmati Udara Ponorogo-Pacitan hari ke 3)”

  1. Hi! Here is nice present – the excellent collection of world’s top slots, roulette and blackjack games Just click on the link below to qualify. http://bit.ly/2J9fMVx

Leave a Reply