I Love Ngabar – Desa Santri di Kabupaten Ponorogo (Menikmati Udara Ponorogo-Pacitan Hari Pertama)

Μusim Haji 2018 tentu terasa sangat berkesan buat salah satu sahabat traveller653 @ahmad_aufar karena kedua orangtuanya dapat menuntaskan rukun islam yang kelima yaitu menunaikan ibadah haji. Rencana pun kami susun untuk bersilaturahmi ke rumah beliau di Ponorogo. Selain untuk minta untuk di doakan (dan mencicipi oleh-oleh dari Mekkah), kami juga berencana menikmati beberapa tempat wisata di Ponorogo dan Pacitan. Akhirnya kami putuskan pergi ke sana hari Jumat tanggal 14 September 2018 selepas pulang kantor.

     Siang sebelum berangkat kami sudah menyiapkan semua perlengkapan tempur untuk perjalanan kali ini, mulai dari kamera (Fujifilm XA-1 dan XT-1), tripod, minuman dan makanan ringan, hingga alat komunikasi Handy Talkie (HT) karena kami menggunakan 2 mobil dalam perjalanan ini. Berangkat dari Blitar dengan jumlah 8 orang, personil kami lalu bertambah 1 orang saat sampai di Tulungagung karena mas @akhmadpanji sudah menunggu di rumahnya yang berada di Kecamatan Ngantru.

Bakso dulu di Alun-Alun Tulungagung

Perjalanan malam pun dimulai

     Rumah mas @ahmad_aufar berada di Desa Ngabar Kecamatan Siman Kabupaten Ponorogo atau berjarak sekitar 90 km dari Blitar. Melewati rute Tulungagung-Trenggalek-Ponorogo, perjalanan kami sempat terhenti di daerah pegunungan Jalan Raya Trenggalek-Ponorogo karena terdapat buka tutup jalan akibat dari longsor. Kebetulan pas kami mau lewat, ada truk molen yang sedang menurunkan muatannya untuk pengecoran jalan sehingga kami harus berhenti sekitar 45 menit (cukuplah untuk menyantap kopi secangkir).

Menunggu jalan yang tak tahu kapan dibuka

     Kami sampai ditujuan sekitar pukul 22.00 WIB (padahal kalau normal 3 jam sudah bisa sampai). Desa Ngabar merupakan desa santri karena di sana terdapat pondok pesantren yang cukup terkenal yaitu Pondok Pesantren Wali Songo (PPWS) atau biasa juga disebut Ponpes Ngabar. Ponpes ini didirikan oleh KH Ahmad Thoyyib tanggal 4 April 1961 dengan dibantu anak-anaknya dan kemudian diwakafkan pada tanggal 6 Juli 1980. Sudah banyak kyai-kyai maupun tokoh-tokoh nasional yang merupakan alumni ponpes ini.

     Yang menarik dari Ponpes ini adalah mereka memiliki unit ekonomi sendiri untuk menunjang kegiatan ponpes seperti minimarket, Walisongo Business Center, penginapan, peternakan dan pertanian. Dan sepertinya memang ponpes ini dibentuk menjadi ponpes modern. Luar biasa bukan, itu yang membuat Ngabar bisa menjadi percontohan ponpes-ponpes lain yang ingin berkembang.

Maaf kami hanya bisa merepotkan 🙁

    Posisi rumah mas @ahmad_aufar berada di dalam lingkungan ponpes. Sambutan hangat dari keluarga mas @ahmad_aufar langsung kami rasakan sesampainya di sana. Makan malam dan minuman hangat sudah disiapkan, tak ketinggalan snack untuk ngemil juga sudah berjejer rapi di wadahnya (ini yang membuat kami sedikit sungkan hehe). Setelah berbincang-bincang sebentar, kami pun memutuskan untuk tidur karena besok kami berencana sebelum shubuh sudah berangkat menuju Pemandian Air Hangat di Pacitan.

   

     Kebersamaan seperti ini lah yang akan kami rindukan. Terima kasih kami ucapkan buat mas @ahmad_aufar beserta keluarga yang telah menyambut dan menerima kami seperti keluarga, sudah mengijinkan kami untuk menginap selama 2 malam.

Ngetrip boleh…………tapi jangan lupa Sholatnya di jaga ya ^_^

Leave a Reply