Gunung Ijen – Pesona Api Biru Abadi dan Kawah Toska yang Melegenda (Bumi Blambagan part 2)

   Setelah puas menikmati alam bebas di Baluran, kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Banyuwangi. Destinasi wisata kami berikutnya adalah Gunung Ijen, gunung berapi aktif dengan ketinggian 2443 di atas permukaan laut. Tak terasa perut kami mulai berbunyi tanda cacing-cacing di perut butuh diberi makan. Kami pun berhenti di Pantai Watudodol untuk menikmati ikan laut segar sambil melihat Pulau Bali dari kejahuan. Watudodol sendiri letaknya tidak begitu jauh dari Pelabuhan Ketapang. Kalau kalian ingin pergi ke Pulau Menjangan, kalian bisa menyewa perahu dari sini lho. Sedikit saran saat kalian makan di tempat wisata seperti ini, tanyakan dulu harga ikan yang akan kalian makan supaya kalian tidak menyesal pada saat membayar (bahasa jawanya “keblondrok” hehe).

Ikan Ekor Kuning….maknyusssss

   Pendakian Gunung Ijen bisa dilakukan malam hari atau siang hari. Karena kami ingin melihat blue fire, kami memilih pendakian dinihari atau sekitar jam 01.30 WIB.. Untuk menjaga kondisi kami supaya tetap fit saat melakukan pendakian, kami istirahat sejenak di Masjid Agung Baiturahman yang terletak di seberang Alun Alun Sri Tanjung. Sehabis magrib kami mengisi tenaga dengan menikmati makanan khas Banyuwangi yaitu sego tempong. Dinamakan sego tempong karena saat kita memakannya, pipi kita akan terasa seperti ditonjok akibat rasa pedas dari makanan tesebut. Hmm…….buat kalian yang suka pedas, kuliner ini wajib kalian nikmati saat berkunjung ke Banyuwangi.

   Perjalanan dari Kota Banyuwangi menuju Pos Paltuding (batas akhir parkir kendaraan buat para pendaki) sekitar 2 jam. Jalanannya lumayan menantang karena penuh dengan belokan dan tanjakan. Beberapa kali kami harus melewati alas, bahkan kalau ditotal hampir 1 jam kami tidak berpapasan dengan kendaraan lain. Saat itu kondisi gerimis dengan kabut yang lumayan tebal, sedikit seram juga sih kalau dipikir-pikir. Hawa dingin langsung menyapa kami saat sampai di Paltidung. Setelah membeli tiket (harga tiket untuk wisatawan lokal adalah Rp 5.000 pada  weekdays dan Rp 7.500 pada weekend), kami pun memtuskan tidur di mobil sambil menunggu jam pendakian (luar biasa pules tidurnya, alarm bunyi 4 kali kami baru bisa bangun hehe).

Pendakian pun dimulai

    Lumayan banyak juga yang mendaki, padahal pas kami datang tadi masih sepi. Di tempat mulai pendakian banyak orang yang menawarkan ojek untuk naik ke atas, tapi tidak dengan motor melainkan dengan gerobak dorong. Harga yang ditawarkan Rp 150.000 untuk pengunjung lokal dan Rp 500.000 untuk wisatawan asing. Awal pendakian masih datar-datar saja, setelah berjalan sekitar 10 menit baru mulai terasa tanjakan yang lumayan tinggi. Jarak tempuh dari Paltidung menuju puncak sekitar 3 km (normalnya sekitar 2 jam dengan kondisi bukan seorang yang memiliki basic sebagai pendaki seperti kami).

   Selangkah demi selangkah kami lalui. Hawa dingin pun sudah tidak terasa lagi. Rombongan kami terdiri dari 4 laki-laki dan 1 perempuan, otomatis kami harus menyesuaikan kemampuan si perempuannya (Mbak Prisca). Lalu muncul guyonan 30 detik jalan 1 menit berhenti hehe. Ada 3 spot tanjakan yang lumayan curam, panjang, dan membentuk huruf U. Sesekali kami minggir untuk memberi jalan kepada ojek gerobak yang lewat (ojek ini terdiri dari 3 orang, satu orang mendorong dari belakang dan dua orang menarik dari depan).

  Mendekati puncak bau belerang semakin terasa, apalagi kalau angin sedang berhembus. Gas belerang ini sebenarnya beracun kalau terhirup terlalu banyak. Oleh karena itu dianjurkan buat para pendaki membawa kain (kalau bisa dalam kondisi basah) untuk digunakan sebagai masker. Di dekat puncak juga ada persewaan masker, harganya Rp 15.000.

     Sekitar pukul 03.30 WIB kami sudah sampai di puncak. Mas Ridwan, Rizki dan Baim memutuskan untuk turun ke bawah melihat api biru. Sementara saya dan Prisca menunggu di atas karena kami ingin melihat sunrise . Yang menjadi dilema saat kalian di Puncak Gunung Ijen adalah kalian turun ke bawah untuk melihat blue fire yang besar lalu semakin mengecil saat pagi hari atau kalian menunggu di atas untuk melihat matahari terbit dan menerangi kawah Ijen yang berwarna hijau. Dan saya berani pastikan kalau kedua hal itu sama-sama indah.

Sunrise mulai terlihat
Kawahnya masih tertutup
Kawah Toska Gunung Ijen
Nyobain Gerobak Ojek
Serasa poster di Twilight hehe

    Puas berfoto-foto dan menikmati udara sejuk di atas gunung (saat pagi hari bau belerang mulai tidak terasa), kami memutuskan untuk turun. Sesekali kami berpapasan dengan para penambang belerang. Sekali angkut beratnya bisa mencapai 80 kg dan sehari mereka bisa sampai 3 kali bolak balik (luar biasa pokoknya perjuangan mereka dalam mencari rizeki yang halal). Kurang lebih 1 jam kami berlima sudah ada diparkiran. Ada dua opsi yang kita bahas, lanjut ke Pulau Merah atau pulang ke Blitar. Karena kondisi sudah sangat lelah, kami pun sepakat untuk mengambil opsi kedua tapi lewat Bondowoso (tidak kembali ke Banyuwangi lalu lewat pantura).

Belerang hasil tambang

   Apa sih hal yang berkesan saat travelling ke Banyuwangi ini? Kami sepakat hal yang paling berkesan adalah perjalanannya (meskipun tempat wisatanya pun juga berkesan). Bercanda di dalam mobil, makan bareng di pinggir pantai, dan berhenti sejenak di pinggir jalan untuk tidur bersama adalah hal-hal yang tidak setiap saat kami berlima bisa nikmatin ^_^

********

Follow IG kita @traveller653 dan kalau kalian ingin informasi seputar wisata di Banyuwangi, kalian bisa komen di traveller653.com

2 Replies to “Gunung Ijen – Pesona Api Biru Abadi dan Kawah Toska yang Melegenda (Bumi Blambagan part 2)”

  1. […] Baca juga: http://traveller653.com/2018/03/28/gunung-ijen-pesona-api-biru-abadi-dan-kawah-toska-yang-melegenda-… […]

  2. menarik sekali artikelnya.

Leave a Reply